“Stefan!” Panggil Alicia pelan. Meski Alicia tau perkataannya tidak akan bisa didengar pria itu, tapi Alicia tahu, Stefan pintar membaca gerak bibir seseorang.

Laki-laki itu masih diam membeku, “Kau kesini untuk apa? Memberikan undangan pernikahanmu?”

Jantung Alicia serasa ingin keluar dari rongga dadanya. Perkataan bernada sinis itu bisa keluar dari bibir pria itu untuknya. Jangan bilang, Stefan berubah. Stefan yang ia kenal penuh kasih dan selalu menuturkan perkataan lembut untuknya bisa seperti ini.

Alicia menatap tidak percaya pada Stefan, “Kenapa kau begini?” bibir Alicia bergetar.

“Memangnya aku seperti apa sebelumnya?” Tanya Stefan bertanya kembali.

“Kau tidak seperti ini, Stefan!” sahut Alicia penuh penekanan, ia menggelengkan kepalanya.

Orang dihadapannya sekarang tidak mungkin Stefan, Stefan orang yang lembut dan Stefan tidak pernah berkata kasar, dingin, ketus atau dengan suara tinggi.

“Aku bukan Stefan-mu lagi, Alicia.” penuturan itu tentu membuat Alicia jatuh.

Tapi yang tidak Alicia tahu, Stefan juga jatuh namun mati-matian ia berusaha untuk tetap kokoh berdiri, ia ingin terlihat kuat bukan lemah seperti pria pengecut, Stefan juga punya harga diri.

Meski ia tidak akan pernah bisa mendengar, tetap saja perkataan dari keluarga Alicia yang merujuk pada penghinaan bisa memukul dadanya telak! Sangat telak, terlebih pada saat itu.

Pada malam dimana ia dan Alicia menghabiskan waktu di dalam villa kosong, mereka bermain dan bercanda hingga tak menyadari bahwa waktu sekarang bergerak melewati pukul 12 malam.

Dan dengan modal keberanian juga sebagai pria yang bertanggung jawab, Stefan mengantarkan Alicia ke rumahnya. Ia tahu, mungkin saja ia akan ditanya macam-macam pada saat itu.

Hingga setelah mereka memasuki kediaman Alicia, wanita yang merupakan ibu dari Alicia langsung menarik anaknya untuk menjauh dari Stefan.

Mata wanita itu berkilat tajam, menusuk kedalam iris mata Stefan.

“Bukankah sudah kuperingatkan, akhiri hubunganmu dengan Alicia!”

Suara wanita itu menggema, namun setinggi apapun wanita itu berkata Stefan tidak akan bisa mendengarnya, ia hanya bisa mengerti tatapan mematikan yang ditujukan padanya.

Sekilas, ia melirik ke arah Alicia, gadis itu menundukan kepalanya bibirnya bergetar.

Kemudian Stefan beralih menatap wanita itu, “Aku tidak bisa!” sahut Stefan.

Wajah wanita itu kini berubah menjadi merah padam, Stefan tahu sebentar lagi wanita itu akan meledak, dan bisa saja akan melukai Stefan.

Tangan wanita itu sudah terangkat, dan menampar pipi Stefan.

“Mom!” teriak Alicia tidak terima.

“Diam kau, Alicia!” dan saat itu juga Alicia hanya bisa terdiam.

“Untuk yang kesekian kalinya, aku peringatka—“

“Aku tidak bisa! Meski beberapa kali kau memperingatkanku, aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengannya, aku benar-benar mencintainya.” Sahut Stefan.

Nafas pria itu terdengar sengal-sengal, karena menahan emosinya agar tidak meledak saat ini. Ia ingin mengungkapkan semua apa yang ia rasakan. Bahwa ia tulus mencintai Alicia bahkan tidak ada embel-embel apapun. Ia sangat mencintai Alicia. Apa wanita dihadapannya ini tidak pernah bisa mengerti.

Bagikan :