“Buang saja cintamu, Stefan, karena aku tidak akan pernah merestui kalian dengan berbagai alasan.”

“Tapi … kenapa?” tanya Alicia yang sedari tadi hanya mengusap air matanya.

Wanita itu menoleh pada putrinya, kemudian kembali menatap ke arah Stefan dengan tatapan mencemooh, “Apa tidak akan menyakiti pria ini jika kusebutkan alasannya, Alicia?” 

“Tidak Mom, jangan!” Alicia memohon, ia tidak ingin menyakiti kekasihnya.

“Sebutkan saja nyonya, jika anda ingin menyakiti saya, maka langsung sekalian saja!” ucap Stefan dengan wajah tenangnya.

Rose mencebikan bibirnya kebawah, kemudian berdehem, “Karena kau tuli, Stefan!” Rose tersenyum pada Stefan, tangannya bergerak menyentuh daun telinga Stefan, dan membuat Stefan berusaha untuk menahan gejolaknya, ia menahan nafasnya sekuat tenaga, “Kau punya telinga, tapi kau tidak bisa mendengar haha…”

Rose tertawa, tawanya bahkan menggema. Tawa itu seperti pukulan yang sangat keras untuk Stefan, dan jangan lupakan Alicia juga menerima dampaknya.

Siapa yang tidak sedih saat seseorang yang kita cintai disakiti seperti itu, meski ibunya tidak menyakiti kekasihnya secara fisik, tapi ibunya menyiksa tanpa ampun batin kekasihnya.

Menebas habis perasaan kekasihnya.

“Tapi—“

“Kau tidak pantas untuk anakku, Stefan. Lihatlah dirinya.” Rose mengarahkan tangannya ke arah Alicia yang berdiri, “Begitu sempurnanya bukan. Tidak denganmu, kau punya cela, kau cacat, dan aku tidak akan membiarkan anakku bersama pria tidak berguna sepertimu.”

Habis. Stefan ditindas habis oleh wanita ini, dada Stefan kembang kempis, “Semoga kau sadar, Nyonya. Hidupmu tidak selamanya diatas, dan saat hidupmu berada di bawah aku tidak tahu apa kau bisa bicara seperti ini lagi!”

“Apa kau—“

Stefan mengangkat tangannya, ia menutup matanya untuk tidak membaca gerak bibir wanita itu, cukup sudah. Mulut wanita itu benar-benar seperti sebilah pisau.

Stefan tidak mungkin menutup mulut wanita itu dengan telapak tangannya, karena hanya dengan memejamkan matanya saja sudah cukup. Perkataan Rose tidak akan pernah Stefan tahu.

“Dan aku akan mendoakan anda, aku akan mendoakan anda untuk hidup selalu diatas, karena aku masih memikirkan Alicia! Jadi aku berharap, selama Alicia masih ada bersama kalian, aku akan mendoakan bahwa hidup kalian aman-aman saja. Terimakasih sudah menyadarkanku. Aku pamit!”

“Sejak kejadian saat itu, ibumu benar. Aku tidak pantas untukmu.” Ucap Stefan pasrah.

“Tapi apa kau sama sekali tidak ingin berusaha, Stefan?” tanya Alicia, bibir gadis itu bergetar, Stefan tahu Alicia mungkin akan meledak, menumpahkan tangisannya. “Apa kau sebegini lemahnya?” Alicia menggelengkan kepalanya pada kepasrahan Stefan.

“Untuk apa aku berusaha mengejarmu? Kalau nyatanya aku bahkan tidak menginginkanmu lagi, Alicia!”

Alicia hampir menangis, tak menyangka mendengar perkataan Stefan. Alicia tidak menyangka bahwa selama ini Stefan tidak mengejarnya karena memang tidak menginginkannya lagi.

Alicia menelan saliva kelat yang susah payah, pandangannya berubah nanar, apa Stefan sebegitu marah padanya? Hingga tidak menginginkannya lagi.

Bagikan :