CHAPTER 2

“Apa yang ada di kepalamu, Ansel?”

Pertanyaan itu sontak membuat si pemilik nama mengernyit bingung. Beruntung sedari tadi ia sempat menegak minumannya hingga tak perlu repot-repot tersedak.

“Bicara apa, Kau?” Tanya Stefan. Meski suaranya tak sampai telinganya. Ia yakin nada yang dikeluarkannya terkesan dingin.

Marc menatapnya sebentar, sedetik kemudian mencebik, “Tidak tau diri.” maki Marc, kemudian berbalik hendak meninggalkan pria itu dalam keterdiaman, serta keterkejutan.

“Tunggu Marc, apa maksudmu?” Tanya Stefan berteriak.

Langkah Marc berhenti, hanya menampilkan bahunya yang kokoh. Namun sedetik kemudian ia berbalik.

“Tanyakan pada dirimu.” masih datar.

Entahlah Marc rasa-rasanya ingin membenturkan kepala pria itu pada tembok, agar ia sadar bahwa kemarin ia berlaku tak baik dengan kekasihnya sendiri.

Bukannya memang ia yang berharap Alicia kembali, kenapa saat kesempatan itu datang pria itu mengabaikannya.

Marc masih ingat bagaimana pilunya tangisan Alicia kemarin, bahkan tanpa pamit gadis itu berlari entah kemana. Anna pun bahkan tidak bisa mencegahnya. Mungkin karena ia terlalu rapuh.

“Maaf. Aku tidak mengerti maksudmu.” Stefan menggeleng pelan.

Marc melemaskan bahunya, “Apa yang kau lakukan pada Alicia kemarin?” Tanya Marc.

“Aku ti—“

“Tidak mengatakan apa-apa?” potong Marc seolah tahu apa yang akan dikatakan Stefan selanjutnya.

“Oh, atau kau bilang kau mencintainya?Begitu? ” Tanya Marc disertai tawa sinis.

Peryataan Marc tentu berupa sindirian, siapa yang akan menangis pilu dan berlari saat orang yang kita cintai mengatakan perihal ‘cinta’ bukan.

“Jawabanmu tidak masuk akal,”

“Aku belum menjawab, Marchisio.” Tegas Stefan, “Apa maksudmu bertanya seperti itu? Aku mengatakan padanya kemarin, tidak usah mengkhawatirkanku lagi. Apa salah? ” Oh, jawaban Stefan sedikit benar dan sedikit mengandung kebohongan.

“Aku tidak percaya itu,” Marc menggeleng lantas meremas rambutnya frustrasi. Frustrasi karena tidak mengerti apa yang terlintas dipikiran pria bodoh itu.

“Lebih baik kau jangan ikut campur, Marc. Urusi saja kekasihmu Anna itu.”

“Aku tidak mencampuri urusanmu, Stefan. Aku hanya merasa aneh padamu, kau selalu mengharapkannya tapi—“

“Itu dulu! Setelah wanita itu menghinaku secara menyakitkan, maka kuputuskan untuk tidak lagi mengharapkannya.”

Stefan berbohong pada dirinya sendiri, saat mengatakan hal tersebut dalam dadanya terasa sangat menyakitkan. Seolah ada sebuah tangan yang meremasnya dari dalam, mencabiknya secara menyakitkan.

Bagikan :