-Sabtu Sore-

     “Sore Tante,” sapa Dimas pada bunda.

     “Oh, jadi ini yang namanya Dimas?”

     “Iya tante, makasih udah mau ngundang saya main,”

     “Gak lebih ganteng dari aku kan bun,” celotehku.

     “Dhika! kalian berdua itu sama-sama tampan bunda aja sampai terpesona, coba bunda masih muda.” candaan Bunda itu membuat kami tertawa bersama.

     “Cinta mana bun?” tanyaku sambil mencari sosok gadis yang aku cintai itu, karena hari ini aku memang belum melihatnya sejak pagi tadi.

     “Nanti juga turun, dia tadi juga baru pulang, lagi banyak kegiatan OSIS di sekolah katanya, makanya tadi pagi dia berangkatnya buru-buru sama Rio,” jelas bunda.

     Rio lagi Rio lagi. Kenapa setiap aku mendengar nama itu membuatku cemburu setengah mati!

     “Kenapa nyariin Cinta, kangen ya….” Ohh… suara itu, suara yang selalu ingin aku dengar di setiap hariku.

    Aku melihat sosok cantik itu kini terlihat sedang menuruni anak tangga dari lantai atas. Rasanya aku ingin sekali berlari menghampirinya dan memeluknya saat ini juga.

     ‘Aduh Dhika, Dhika sadar lo itu kakaknya!’ gumam batin Dhika merutuki dirinya.

     “Hay, Cinta…” sapa Cinta sambil memperkenalkan dirinya pada Dimas, dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.

     “Dimas,” ucap Dimas sambil menjabat uluran tangan Cinta.

     “Loh ayah mana bun?” tanyaku karena hari ini pun aku juga belum sempat melihat sosok ayahku itu.

     “Oh iya, tadi ayah telfon katanya gak bisa ikut gabung karena ada jadwal oprasi hari ini,” jelas bunda.

     Ya ayahku itu pun juga seorang dokter, dokter bedah tepatnya dan ayah juga adalah salah satu pemegang saham di rumah sakit Medical Center tempat di mana aku dan Dimas sekarang bekerja.

     “Ya udah kalian ngobrol aja dulu, bunda siapi makan malamnya dulu ya.”

     “Iya tante makasih,” ucap Dimas yang di balas senyuman oleh bunda.

     “Cinta kelas 3 SMA kan?” tanya Dimas berbasa-basi.

     “Iya sebentar lagi mau UAS kak,” jawab Cinta.

     “Mau meneruskan kuliah ke mana?” Tanya Dimas

     “Di Universitas Indonesia aja kak…”

     “Gak mau ke luar negeri kayak kakak mu ini?” tanya Dimas lagi.

     “Nggak ahh, Cinta gak mau jauh-jauh, cukup kakak aja dulu yang pergi jauh.” jawaban Cinta membuatku terteguh. Aku merasa ada penyesalan di dalam hatiku ketika mendengar ucapan adikku itu.

     “Terus mau ambil jurusan apa?”

     “Pisikolog sih rencananya.”

     “Bagus itu, kamu bisa membantu kakak mu ini yang punya kelainan mental.” cibiran Dimas sukses membuat aku memelototinya.

     “Kelainan mental?” gumam Cinta.

     “Iya aku sering lihat dia ngomong sendiri kaya orang gak waras.” bisikan Dimas yang terdengar pelan itu masih bisa terdengar olehku.

     “Gue masih bisa denger itu Dimas!” tukasku sambil melipat kedua tanga di dada, menatap tajam kedua orang yang tengah mentertawaiku itu.

     “Tajem juga telinga lo,” sahut Dimas masih terkikik

     “Hahahah… kak Dimas bisa aja, aku rasa juga gitu, makanya kak Dhika jangan sering-sering ngoceh sendirian nanti di sangka gila loh.” ucapan Cinta itu sukses membuatnya juga mendapati hadiah pelototan dariku. Namun tetap saja pelototanku itu tidak juga membuatnya berhenti tertawa. Tapi biarlah, karena aku lebih suka melihatnya tertawa lepas seperti itu.

     “Ayo makan malamnya sudah siap,” panggilan bunda menuntunkami untuk beranjak ke arah ruang makan.

     “Iya bun… ayo ka,” ucap Cinta sambil lalu ke arah ruang makan.

     “Seeetttt…” desauan Dimas itu membuat aku langsung mengedikan bahuku.

     “Ehhh apa?” tanyaku.

Download Full via GooglePlay : Download

Bagikan :