‘Ya Tuhan…. Gadis ini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik dan menawan.’ Dhika merasakan tubuhnya yang seketika itu menegang karena pelukan adiknya itu.

     ‘Apakah perasaan ku ini masih belum hilang ataukah malah semakin bertambah? Apakah pelarian ku selama ini tidak berpengaruh sedikit’pun terhadap rasa yang aku punya untuknya? Mengapa rasanya perasaanku ini seperti bangkit kembali, bahkan bertumbuh lebih cepat di saat aku menatap sosoknya yang kini berada tepat di hadapanku. Tuhan… tolong jangan buat benteng pertahanan yang sudah aku bangun selama ini runtuh begitu saja,’ Batin Dhika berkecamuk dengan akal sehatnya.

     “Kakak! Kok melamun? Hayo ngelamunin siapa?” pertanyaan dan godaan Cinta itu sukses membangunkan Dhika dari lamunannya akan gadisnya itu.

     “Ehh, nggak kok, nggak ngelamunin siapa-siapa,” jawab Dhika. ‘Ya ngelamunin kamu lah,’ batin Dhika meneruskan sambil tersenyum manis kepada gadis itu.

     “Kamu udah gede ya Taa…” ucap Dhika sambil sedikit mengacak-acak poni Cinta, yang di balas dengan muka cemberut lucu gadis itu.

     “Ahh, mulai deh jahilnya! Berantakan tau poni Cinta!” racau gadis itu sambil menyisiri helayan-helayan poninya yang berantakan itu dengan jari jemari lentiknya itu.

     “Loh, kamu gak sekolah hah?” tanya Dhika heran karena hari ini bukanlah hari libur sekolah.

     “Bolos…. Gak papakan lagian Cinta bolos juga sepesial buat jemput kakak. Jadi Kakak ku yang ganteng ini jangan marah ya,” akuinya polos tanpa dosa, sambil tersenyum tiga jari dan mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V.

     “Ck! Adiku yang manis ini sudah pinter sekali bolos sekolah ya, siapa yang ngajarin kamu huh!” Ucap Dhika menjawil pucuk hidung Cinta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

     “Kamu sama siapa ke sini?” tanya Dhika.

     “Sama Mamang tuh orangnya,” jawab Cinta sambil mengedikan bahunya kearah supir yang di tugaskan untuk menjemput Dhika di bandara hari ini.

     “Mari den, saya bawakan tasnya,” pinta mang Asep supir pribadi keluarga Dhika.

     “Oh… iya mang makasih”

     “Aahh…. Aden pake makasih sagala, ini kan udah tugas mamang atuh den,” ujar mang Asep dengan logat sundanya, membuat Dhika benar-benar rindu akan tanah kelahirannya.

     Ya inilah kali pertama Dhika kembali menginjakan kaki di tanah kelahirannya. Sudah hampir 6 tahunan ini dia harus jauh dari keluarga dan orang-orang yang sangat di sayanginya, karena dia harus melanjutkan study kedokteran-nya di Universitas Harvard, Cambridge Amerika Srikat. Dan sekarang Dhika telah pulang dengan membawa ijazah sarjanah ilmu kedokteran dari Universitas Harvard dan mendapat predikat gelar Dokter Muda Universitas Harvard di usianya yang baru menginjak 24 tahun.

     “Cchhiiieee…, yang udah jadi pak dokter” goda Cinta.

     “Iya dong siapa dulu Dhika Arya,” ucap Dhika membanggakan dirinya.

     “Ck! Mulai deh gede kepalanya.” cibir Cinta sambil mengerucutkan bibir mungilnya.

     “Emm…. Perasaan sepertinya Cinta terlihat semakin pendek aja ya,” goda Dhika pada adik kecilnya itu yang sukses membuat wajah gadis itu merengut kesal.

     “Ihh kakak! Cinta gak pendek tau! Tapi kak Dhikanya aja tuh yang tambah tinggi. Orang Cinta tingginya nambah kok,” rajuknya sambil bersedekap dada.

     “Hehe iya-iya. Udah jangan ngambek lagi, ayo pulang. Kakak udah capek nih,” ucap Dhika sambil lalu pergi seraya menggandeng adiknya itu di bawah bahunya.

     “Nanti pijitin kakak ya”

     “Males,” ucap Cinta masih dengan nada ketusnya.

     “Ya udah, nanti oleh-olehnya kakak kasih ke mang Asep aja ya,” goda Dhika lagi.

     “Ahh, Kakak jangan dong masa gak kasian sama adik mu yang cantik ini.Udah bela-belain jemput sampai bolos sekolah, tapi gak di kasih apa-apa lagi.” Rajuk Cinta lagi.

     “Haha…. Siapa juga yang suruh kamu bolos.” tawa Dhika puas karena sukses membuat adik tercintanya itu merengut kesal.

     “Menyebalkan!!!”

Bagikan :