Sekuat apa’pun kau membangun pertahanan hatimu, sejauh apa’pun kau menghindarinya. Semua itu pasti akan sia-sia karena kau hanya membentengi hatimu, bukan menghancurkannya….

Tokk… tokk…

     Klikk…

     “Kakak,” sapa Cinta polos sambil mendongakkan kepalanya di balik pintu kamar Dhika yang tadi di ketuknya.

     “Tumben ngetuk pintu dulu biasanya langsung nyelonong gitu aja,” ucap Dhika.

     “Ihh, kakak aku kan masih punya sopan santun. Lagiankan takut aja, nanti kalau pas aku masuk kak lagi__eum… lagi ganti baju gimana?” ujar gadis itu sambil melangkahkan kakinya masuk ke kamar kakaknya itu

     “Bilang aja kamu takut lihat kakak telanjang kan.” Ucapan Dhika membuat kedua pipi adiknya itu merona merah. Dan hal itu di lihat cantik oleh Dhika.

     “Ya itukan bahasa halusnya kak,” elak Cinta.

     “Ada apa?” tanya Dhika to the point.

     “Ehh…. Oh itu, kakak di tunggu ayah sama bunda di bawah, bunda udah nyiapin makanan kesukaan kakak tuh,” jawab Cinta.

     “Oky nanti kakak turun, mau mandi dulu. Keringetan nih.”

     “Oky deh kalau gitu aku turun duluan ya.”

     Sebelum Cinta sempat meninnggalkan kamar itu, Dhika lebih dulu mencekal pergelangan tangannya untuk bisa menghentikan langkah adiknya yang ingin keluar dari kamarnya. “Ada apa?” tanya Cinta sambil menyunggingkan sebelah alisnya menatap Dhika.

     ‘Ya Tuhan gadis ini benar-benar membuat benteng pertahanan ku ini mulai runtuh. Bagai mana bisa hanya dengan tatapannya saja dia sudah bisa membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya? Mengapa Kau ciptakan mahluk secantik dia di hidupku ini Tuhan, jika aku tak’akan pernah bisa untuk memilikinya.’ gumam batin Dhika menjerit akan kebenaran yang terpampang jelas di hadapannya jika gadis cantik itu adalah adik perempuannya.

     “Duduk dulu,” pinta Dhika menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. Dhika melangkahkan kakinya kearah koper dan ransel yang masih belum sempat di bongkarnya sedari tadi pagi, waktu dia pulang dari bandara. Dhika membuka ranselnya dan mencari-cari benda kecil itu, benda kotak berlapis bludru biru yang dia bawa pulang dari cambride sebagai cendra mata untuk di hadiahkan pada adiknya itu.

     “Ini,” Dhika mengulurkan tangannya yang memegang kotak kecil itu kepada Cinta.

     “Ini apa?” tanya Cinta sambil menerima kotak itu.

     “Buka saja” jelas Dhika.

     “Kalung, ini buat Cinta?”

     “Bukan! Itu buat mang Asep, ya buat kamu lah,” ucapan Dhika itu membuat Cinta mencebikan bibirnya lucu.

     “Kalungnya sih tidak seberapa sepesial, tapi yang sepesial itu liontinnya.” terang Dhika dan raut wajah cemberut Cinta itu tergantikan dengan raut wajah penasarannya.

     “Maksud kakak?”

     “Sini kakak pakaikan…. Kamu lihat bentuk liontin ini, bentuknya seperti uang koin kan…” Cinta mengangguk sambil menatap liontin itu.

     “Waktu kakak jalan-jalan ke pasar barang antik di Cambride kakak lihat koin itu, koin dengan warna perunggu itu memiliki grafiran yang unik dan cantik. Di koin itu juga tertera tulisan latin, di situ tertulis Amor Inveniet yang artinya Cinta Akan Menemukan Jalan.” Dhika sempat menatap wajah Cinta setelah dia menjelaskan arti dari tulisan itu. Dan entah mengapa Dhika seperti melihat ada sesuatu yang tersirat di setiap lekuk wajah gadis itu, Seperti ada kesedihan di wajah adiknya itu tapi Dhika tidak tahu kesedihan macam apa itu. Dhika hanya melihat guratan kesedihan di sana namun guratan itu seketika lenyap tergantikan oleh senyuman manisnya.

     “Kamu tahu? Kata penjualnya koin ini ada historynya…. Dulu koin ini pernah di miliki oleh dua saudara kembar laki-laki dan perempuan, mereka terpisah sejak di lahirkan karena kedua orang tua mereka meninggal akibat perang dunia 2. Tapi sebelum orang tua mereka meninggal, kedua orang tua mereka itu sempat memakaikan kedua buah kalung yang berliontinkan koin ini pada mereka. Karena mereka terpisah satu sama lain, maka dari itu mereka menjalani hidupnya masing-masing dan tak pernah saling mengenal. Hingga pada saatnya waktu yang mempertemukan mereka kembali dengan cara dan takdir yang indah karena liontin ini. Begitu sih kata penjualnya,” terang Dhika.

Bagikan :