“Oh…. Tunggu dulu deh kak, kata kakak ada dua buah kalung kan? Lalu yang satu lagi mana?” tanya Cinta

     Dhika tersenyum atas pertanyaan Cinta. Dhika mulai membuka beberapa kancing atas kemejanya dan di saat itu terlihatlah rantai yang melingkari lehernya, ada sebuah liontin di sana yang bergelayut pada rantai itu. “Ini yang satunya ada di sini” ujar Dhika yang sukses membuat mata adiknya itu sedikit terkesiap karena melihat kalung yang sama juga tengah melingkari lehernya.

     Cinta menyentuh mata liontin yang tergantung di leher Dhika itu dengan jari jemari lentiknya, jujur saat jemari Cinta itu menyentuh kulit dada Dhika, Dhika merasa ada sebuah rasa yang berdesir di seluruh tubuhnya yang membuatnya tiba-tiba menjadi sedikit tegang.

     “Amor Inveniet….” Cinta mengulang kata-kata Dhika tadi saat dia melihat dan menyentuh koin yang menggantung di dada kakaknya itu. Entah apa yang ada di fikirann mereka berdua saat ini, hingga mereka terdiam cukup lama di posisi seperti itu.

‘Ya Tuhan, apa benteng itu mulai runtuh?’

PART 1

Percuma! Semua yang kau lakukan percuma, semuanya sia-sia.

Kau yang membangunnya namun kau juga yang menghancurkannya. Bukan di hancurkan dari luar, tapi langsung dari dalam. Kau menikam jantung mu sendiri dengan belati cintamu….

 

 

~Dhika Pov~

Kubangun tembok di sekeliling hatiku, kubangun benteng pertahanan yang ku kira akan kuat jika suatu hari nanti aku berhadapan langsung dengannya lagi. Namun semua itu sia-sia bukan kuat menahan serangan dari luar malah hancur dari dalam, runtuh sebelum serangan itu di mulai karena aku sendirilah yang menghancurkannya.

Na’as…. Ya memang na’as, aku yang membangunnya dan kini aku jugalah yang menghancurkannya.’

     “Pagi yah, pagi bun…” aku menyapa kedua orang tuanyaku dan tak lupa juga untuk memberikan morning kiss pada bunda yang sedang berkurik menyiapkan sarapan pagi hari ini.

     Morning Kiss…. Ya itulah kebiasaan Cinta, adik kecilku yang dengan tidak sengaja tertular olehku. ‘Apakah dia masih melakukan hal itu?’ Pertanyaan di kepalaku itu saja sudah membuat aku merinding karena tegang, bagai mana kalau dia itu masih melakukannya, aku tidak bisa membayangkan bagai mana bibir tipis, lembab dan kenyal itu menyentuh permukaan kuli pipiku. ohh oky fix, aku mesum.

     “Kapan kamu mulai berkerja Dik, apa hari ini?” pertanyaan ayah itu berhasil membuyarkan lamunanku tentang morning kiss yang akan di berikan adik ku itu padaku.

     “Belom kok yah, hari ini masih harus ngecek berkas-berkas Dhika dulu, takutnya masih ada yang kurang,” jelasku.

     “Kalo gitu hari ini niatnya kamu mau ke mana?” tanya bunda.

     “Hari ini sih niatnya Dhika mau ke rumah sakit, mau lihat-lihat sebentar.”

     Tanpa aku sadari kehangatan dan kelembutan itu menjalar dari pipiku hingga ke seluruh tubuhku, mengakibatkan tubuhku ini menegang untuk beberapa saat karena merasakan merinding yang amat sangat. Ketika ciuman itu mendarat tepat di pipi kananku.

     “Pagi dokter genteng,” sapaan manja Cinta sangat jelas terngiang di telingaku.

     ‘Ya Tuhan ternyata dia masih melakukannya!’ batinku masih belum percaya jika aku baru saja mendapatkan morning kiss darinya.

     Cinta pun tak lupa untuk membagikan morning kissnya pada kedua orang tua kami. “Pagi yah, pagi bun…”

     “Pagi sayang, kamu bangun kesiangan lagi ya?” tanya dan balas bunda. Ku lihat Cinta hanya meringis tanpa dosa.

     “Kamu gak di jemput lagi sama pacar mu itu. Siapa namanya?__” ucap ayah sambil mengingat-ingat. “Ahh, iya ayah ingat, Rio kan namanya?” ucapan ayah itu membuat jantungku serasa di hantam martil bertubi-tubi.

     Pacar? Cinta punya pacar! Tapi mana mungkin, di setiap email yang iya kirim padaku tak satupun yang pernah

Bagikan :