menceritakan tentang pacarnya itu!

     ‘Dhika-Dhika… buat apa juga dia cerita sama lo tentang hal itu!’ dewa batinku menghardik pikiranku.

     Tapi aku ini kan kakaknya! Ya Tuhan otak ku menerima kenyataannya namun kenapa hatiku ini tidak bisa menerimanya?

     “Ayah apaan sih, nggak dia gak jemput hari ini.”

     “Ya udah biar kamu bareng sama ayah aja” ujar ayah.

     “Nggak mau ahh, ayah aja belum ngapa-ngapain, kalo harus nunggu ayah lagi Cinta baakkalane teeeleaat…” ucapnya dengan mulut yang masih terisi penuh dengan roti.

     “Cinta pelan-pelan makannya, di telen dulu nak baru ngomong nanti keselek,” ucap bunda dengan nada sedikit lebih tinggi. Kelakuan adik kecil ku itu benar-benar membuat semua orang gemas padanya.

     “Urreeggenttt Buuend uhukk….”

     Ya akhirnya dia keselek juga kan. “Di telen dulu Taa,” ucapku yang mulai sedikit geram akan tingkah lakunya itu. Tidak lucu kan kalo dia sampai mati gara-gara keselek roti yang berisi selai kacang.

     ‘Mati kok keselek roti selai kacang, gak ada yang bagusan dikit apa?’ ucapan itu hanya bisa terlintas di dalam batinku saja namun tawaku tidak bisa aku tahan. Dan akhirnya tawa ku itu di balas dengan tatapan tajam dari Cinta dan tatapan heran dari kedua orang tuaku.

     “Kenapa kak Dhika kok ngakak gitu?” tanya Cinta dengan nada penuh selidik, aku tahu dia pasti mengira aku sedang mentertawakannya, dan apa yang ada di pikirannya itu memang benar.

     “Oh sudah habis toh, ayo berangkat biar kakak aja yang antar kamu,” Ucapku sambil beranjak dari kursinya tanpa memperdulikan pertanyaannya itu. “Dhika pergi dulu, ayo Cinta kakak tinggal loh!” ucapku seraya berlalu.

     “Sana cepat nanti kamu telat!” ujar bunda di anggukan oleh Cinta.

     “Ehh, Iya…. Pergi dulu ya yah-bun… tunggu Kakkk!!!” teriaknya sambil mengejar langkahku.

     Terdengar suara pintu mobil yang tertutup. Aku melihat tubuh mungil itu telah berada di sampingku. “Safety beltnya di pasang dulu.” perintahku, karena bukannya memasang sabuk pengaman itu dia malah asik berkutik dengan ipodnya.

     Aku melihatnya masih berkutat pada safety beltnya itu. “Ada apa? bisa gak sih?!” tanyaku sedikit geram.

     “Macet kak, gak mau di tarik nih.” ucapnya masih sambil memusatkan perhatiannya itu pada safety beltnya.

     “Sini.” Aku melepaskan safety beltku da mulai meraih safety belt Cinta yang berada di sisi samping pintu mobil. Ketika aku menyadari jarak antara wajahku dengan Cinta begitu dekat di saat itulah aku terteguh. Ketika aku tahu jika Cinta pun sedang menatapku tepat di kedua manik mataku hingga membuat tubuhku jadi menegang. Dan gilanya lagi kami masih terdiam dengan posisi seperti itu untuk beberapa saat.

     “Kak aku telat,” suara Cinta akhirnya membuatku tersadar dan segera memasangkan safety beltnya yang sudah bisa aku tarik.

     “Jadi siapa Rio?” tanyaku memecah keheningan setelah kejadian safrty belt tadi. Masih terngiang nama laki-laki yang di sebutkan ayah saat sarapan tadi. Nama pria yang di kira ayah sebagai pacar Cinta.

     “Eehhh,” gumam Cinta. Sambil mengedikan bahunya ke arahku dan menghentikan kegiatannya dari Ipodnya itu.

     “Rio itu siapa, pacar kamu? kenapa kakak gak pernah denger kamu cerita tentang dia?” tanyaku sekali lagi, tanpa mengalihkan pandanganku pada jalan raya yang terbentang di hadapanku.

     “Oh itu, bukan kok… Rio itu cuma sahabatku. Kakak masih inget sama Bu Mia kan?” Aku mengangguk, mengerti akan maksud dari pertanyaannya itu. mungkin yang Cinta maksud itu adalah Bu Mia guru SMA ku dulu, yang rumahnya beda beberapa blok dari rumahnya.

     ‘Kenapa dia menanyakan hal itu?’ pikirku.

     “Rio itu anaknya Bu Mia kakak, Rio masih satu sekolah sama aku sampai sekarang, kita cuma sahabatan aja kok. Ayah aja yg berlebihan.” Keterangan yang Cinta berikan itu membuat hatiku yang tadinya panas terbakar oleh api kecemburuan ini seketika itu padam, seperti di guyur air es yang dingin setelah mendengarkan penjelasannya itu.

     “Cinta…” panggilku tanpa mengalihkan perhatian pada jalan, namun ketika tak ada respon darinya aku kembali melirik Cinta yang ternyata tengah asik berkutik dengan earponenya yang telah terpasang manis di telinganya. Aku menarik salah satu kabel earpon itu hingga terlepas, membuat Cinta dengan cepat mengedikan bahunya ke arahku.

    “Ada apa kak?” tanya Cinta ingin tahu dengan ekspresi dan senyuman manis yang selalu tersungging di kedua sudut bibirnya itu.

     ‘Ya Tuhan manis sekali tatapan dan senyuman adik kecilku ini’ Aku menghela napas karena senyuman dan ekspresi manisnya itu membuat aku sesak. “Kamu dengerin lagu apa?” tanyaku ingin tahu.

Bagikan :