“Oh, kirain ada apa. Sebentar…” aku melihat Cinta sedang menyambungkan Ipotnya dengan USB yang tersimpan di dashboard dan menyambungkannya pada streo mp3 mobil. Seketika itu juga aku terteguh mendengar melody dan lirik lagu yang keluar dari speaker mp3 itu.

 

     Ku coba untuk melawan hati

     Tapi hampa terasa di sini tanpamu

     Bagiku semua sangat berarti lagi

     Ku ingin kau di sini tepiskan sepiku

     Bersamammu…

     “Ini kan?”

     “Kakak masih inget, aku kira udah lupa.”

     Tidak mungkin aku bisa lupa. Lagu ini adalah salah satu lagu nomer satu dalam daftar playlisku yang sering aku dengarkan, karena lagu ini lah yang selalu menghiburku di kala aku jauh darinya. Lagu yang selalu aku nyanyikan untuk dirinya. Dan sekarang dia memutarkan lagu ini lagi, di mana dia sedang berada bersamaku. bagai mana bisa aku melupakan lagu ini.

     “Aku suka lagu ini semenjak kakak menyayikannya dengan gitar kakak waktu itu, aku sering dengerin lagu ini. Lagu ini lagu yang sering aku putar dalam daftar playlisku.” Keterangan Cinta membuatku tertegguh. Ternyata bukan cuma aku saja yang sering mendengarkan lagu ini tapi gadis yang sangat aku cintai itu pun juga sering mendengarkannya.

     “Kapan kapan kita cover lagu ini ya kak, nanti kakak yang main gitar aku yang nyayi. Terus di unggah di media sosial ya.” Pinta Cinta antusias dan bersemangat.

     “Oky,” jawabku pasti dan hal itu di sambut senang olehnya.

     Takan pernah ada yang lain di sisi

     Segenap jiwa hanya untukmu

     Dan tak’kan mungkin ada yang lain di sisi

     Ku ingin kau di sini tepiskan sepiku

     Bersamammu hingga akhir waktu….

 

Takdir memang sulit untuk di tebak, namun hidupmu’lah yang menuntun mu. Pilihanmu membawa mu pada takdir hidupmu sendiri. Jangan pernah salahkan takdir cobalah untuk memahaminya dan menjalaninya. Karena ada rencana yang tak akan pernah bisa kau mengerti dalam pilihanmu….

 

~Author Pov~

Tik tok tik tok….

     Denting jam terdengar cukup nyaring di kesunyian ruang yang cukup temaram itu. Seorang pemuda masih saja terjaga di jam selarut ini, entah mengapa matanya susah sekali untuk terpejam. Di liriknya jam dinding yang masih bisa terlihat karena cahaya rembulan yang mengintip dari balik daun pintu kaca brandanya. “Dua petang,” gumamnya.

     Pemuda itu cukup lama duduk terdiam di tepi ranjangnya sambil memandang ke arah daun pintu kaca yang menyambungkan kamar ini dengan branda depannya. Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju pintu kaca yang bergaya sleading itu dan menggesernya secara perlahan. Angin malam mulai menerpa wajahnya memberikan sentuhan dingin yang membuat setiap sisi kulitnya meremang.

     Di liriknya branda kamar sebelah, “Kamar Cinta,” gumam pemuda yang bernama Dhika itu. Beranda mereka ini hanya terpisahkan oleh dinding pembatas setinggi pinggang orang dewasa yang bisa dengan mudah di lompati. Dhika memandangi pintu kacanya branda sebelahnya. ‘Apakah kebiasaan lamanya masih sering ia lakukan?’ fikirnya.

FlashBack 10 tahun silam….

     Ssllarkkk!!!

Bagikan :