Bunyi kaca pintu yang bergeser terdengar cukup nyaring di telinga Dhika, membuat Dhika dengan cepat mengedikan bahunya menatap ke arah branda di sebelah beranda kamarnya. Terlihat seorang gadis cilik sedang berdiri di ambang pintu sambil menatap Dhika yang sedang bersandar ditralis besi brandanya.

     “Cinta kok belum tidur?” tanya Dhika pada gadis cilik nan cantik itu sambil menghampirinya dan duduk di atas dinding pembatas antara branda gadis itu dan brandanya.

     “Iya ini mau tidur, Cinta cuma mau buka pintunya aja sedikit biar anginnya bisa masuk.” jelas gadis cilik yang bernama Cinta itu sambil mengatur lebar celah pintu yang akan di bukanya, hal itu membuat Dhika mengerutkan dahinya.

     “Biar anginnya bisa masuk” ulang Dhika heran.

     “Iya kalo gak gitu Cinta gak bisa tidur kak,” jelasnya lagi.

     “Jadi pintu ini tiap malam tidak pernah kamu tutup? Nanti kalo kamu sakit gimana? Kamu bisa demam.”

     “Nggak kok kak soalnya kalo pintunya di tutup rapet, Cinta takut. Lagian anginnya sejuk, bisa buat Cinta tidur nyeyak,” jelas Cinta dengan nada polosnya.

     “Kalo kamu mau dingin kamu bisa nyalain ACnya kan… terus kamu takut apa?” pertanyaan Dhika membuat raut wajah adiknya itu sedikit takut dan khawatir.

     “Takut__” Cinta menggantungkan kata-katanya sambil melirik ke arah kakanya itu. “Cinta takut, kalo ada kebakaran lagi. Nanti Cinta gak bisa keluar kaya dulu.” penjelasan Cinta membuat Dhika tertegun.

     Ternyata kebakaran 2 tahun yang lalu masih membawa trauma bagi Cinta, karena kebakaran di gudang taman waktu itu hampir saja merenggut nyawanya. Bayangan kejadian itu kembali terngiang di dalam memory Dhika.

     Waktu itu mereka memang sedang bermain petak umpat dengan anak dari teman bundanya yang sedang mengadakan arisan di rumah, waktu itu Cinta ingin ikut bermain tapi karena waktu itu dia masih terlalu kecil untuk di ajak bermain. Akhirnya Dhika mengajak adiknya itu bersembunyi bersamanya di dalam gudang, di samping taman. Gudangnya cukup luas dan mereka bersembunyi di sana, tapi ketika mereka hampir ketahuan Dhika menyuruh Cinta untuk tetap tinggal di dalam, karena dia ingin mengalihkan perhatian temannya yang sedang berjaga itu agar Cinta tidak ketahuan.

     Namun kesalahan yang di buat Dhika sangatlah fatal. Gudang itu terbakar karena arus pendek pada aliran listrik dan Dhika meninggalkan Cinta di gudang itu sendirian, dengan kondisi pintu yang sengaja di kuncinya rapat dari luar hingga membuat Cinta tak bisa keluar dari gudang itu. Tapi beruntung Cinta masih bisa terselamatkan. Mang Joko tukang kebun yang sewaktu itu ada di samping gudang mendengar teriakan dan tangis Cinta dan dengan segera menyelamatkannya dari lalapan api itu, walau pun Cinta harus berada di Rumah Sakit sekitar hampir 1 mingguan karena gangguan pernafasan karena gadis kecil itu terlalu banyak menghirup asap dari kebakaran itu.

     Dhika bersyukur dan lega karena adiknya itu masih bisa tertolong, kalau tidak mungkin dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Dan semenjak saat itu Dhika telah berjanji akan selalu menjaga adiknya itu dan tidak akan pernah menyakitinya atau mencelakakannya lagi.

     “Maaf ya waktu itu kakak yang salah” ujar Dhika dengan nada penyesalan yang cukup tinggi.

     “Eehh, waktu itu bukan kakak aja kok yang salah aku juga salah gak bisa main malah maksa ikut main, ya gitu deh jadinya. Hoam… aku udah ngantuk kak, aku mau tidur duluan ya,” ucap Cinta sambil menguceki kedua matanya.

     “Ahh iya, tapi jangan terlalu lebar di buka pintunya, nanti kamu bisa sakit,” pinta Dhika.

     “Oky,” jawab Cinta sambil sedikit menarik pintu itu agar celah itu tidak terlalu lebar terbuka. ” Selamat tidur Kak…”

     “Ya nice dream Cinta…” balas Dhika.

     FlashBack off….

Dhika kembali melayangkan kembali pandangannya yang sedari tadi memandangi langit malam yang begitu cerah penuh dengan taburan bintang-bintang itu ke arah pintu kaca kamar Cinta.

     Seketiaka itu juga matanya tiba-tiba mengerjapa tak percaya dengan apa yang sedang di lihat olehnya saat ini, pintu kaca itu terlihat sedikit terbuka karena ada selambu putih yang menyelinap ke luar dan melambai-lambai di hembus oleh angin malam yang cukup dingin malam ini.

     “Ternyata kebiasaannya masih di lakukannya, apa karena dia masih trauma dengan kejadian waktu itu” gumam Dhika. Ucapannya itu membuat Dhika kembali menyesali keteledorannya dulu.

Bagikan :