Dengan mudah Dhika lompati tembok pemisah antara brandanya dan branda Cinta. Dhika menggeser pintu kaca yang ternyata benar tidak di tutup itu dengan mudah dan melangkahkan kakinya memasuki kamar yang cukup temaram itu, Dhika bisa melihat sosok cantik yang sedang terlelap di balik selimut biru muda itu dengan jelas, pemuda itu mencoba untuk duduk di tepi ranjang adiknya itu dengan perlahan sambil memandangi betapa cantiknya gadis yang di cintainya itu saat sedang terlelap seperti ini. Seperti seorang putri yang tengah menanti kehadira pangerannya untuk membangunkan dirinya itu dari lelap panjangnya itu.

     Dhika menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga Cinta karena sulur-sulur rambut itu menutupi sebagian wajah cantik gadisnya itu, Dhika mulai menyentuh kulit wajah Cinta yang lembut selembut sutra itu dengan perlahan dan selembut mungkin. Bibir indah itu menggodanya untuk bisa mencicipi kemanisan bibir ranum itu, entah setan apa yang merasukinya saat ini hingga membuat Dhika berani untuk menyentuhkan jemarinya ke bibir ranum adiknya itu. Dengan perlahan Dhika mulai menghapuskan jarak antara wajahnya dan wajah gadis yang masih terlelap pulas itu, dia merasakan deru nafas teratur gadis itu di wajahnya. Dhika menghirup aroma rambut Cinta dalam-dalam. ‘Aroma buah strawberry,’ gumamnya pelan.

     Dhika mulai menyapu lembut bibir ranum Cinta dengan bibirnya. ‘Ya Tuhan ampuni aku yang telah berani melakukan ini pada adik ku sendiri,’ batin Dhika. otak pria itu melarangnya namun hasrat di dalam tubuhnya itu mendorongnya untuk melakukan hal itu. Dhika merasakan ada pergerakan pada tubuh Cinta. ‘apa dia terbangun?’ Djika menarik bibirnya menjauhi bibir manis itu dan menatap mata gadis itu yang masih terpejam dan sedetik kemudian Dhika melihat ada setetes bening keristal yang meluncur lepas dari sudut mata adiknya itu.

     “Air mata?” Gumam Dhika pelan sambil mengusap bulir air mata yang terlepas dari sudut mata yang masih terpejam itu.

     “Kakak,” gumam Cinta lirih namun mata indah itu masih tetap terpejam dengan kening yang sedikit berkerut menandakan sosok yang masih terlelap itu sedang gelisah, hal itu membuat Dhika tertegun mendengarnya. ‘Apakah dia sedang mengigau? Apa dia sedang memimpikan aku?’ batin Dhika mempertanyakan.

     “Perasaan apa ini, ada sedikit perasaan senang karena dia sedang memimpikan aku, tapi entah kenapa rasanya dadaku ini terasa sesak saat dia menyebutkan namaku tadi,” gumam Dhika lirih sambil menekan dadanya yang terasa sesak.

     Dhika kembali memandangi wajah cantik yang sekarang mulai kembali tenang, tidak ada lagi kening yang berkerut di sana, air mata yang mengalir dari sudut matanya dan juga igawan dari bibir manisnya pun sudah tidak lagi terdengar. Kini Dhika bisa merasakan nafasnya yang mulai teratur. ‘Kurasa mimpi buruknya telah berlalu….’

     Dhika mengecup kening Cinta dengan sayang. “Selamat bermimpi indah putri tidurku,” bisiknya di telinga gadis yang sangat di cintainya itu. Dan Dhika merasa jika Cinta dapat mendengar ucapannya tadi karena ada seutas senyuman simpul yang tercetak jelas di sudut bibir gadisnya itu.

     Dhika kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu. Sebelum dia kembali menutup pintu kaca itu seperti pertama kali dia mendapatinya, Dhika kembali melayangkan pandangannya pada sosok itu, sosok yang masih setia terlelap di balik selimut hangatnya itu. “Maafkan kakak mu ini Cinta” gumamnya lirih.

     Dhika melompati lagi dengan mudah dinding pembatas antara brandanya dan beranda Cinta. Sebelum sempat dia kembali masuk ke kamarnya, Dhika menyempatkan menatap langit yang penuh dengan taburan bintang itu sekali lagi. Dan dengan perlahan dia memejamkan matanya dan berdoa.

 

“Tuhan jika ada rencana bagi hati dan prasaan ku ini, aku mohon agar hal itu tidak menyakiti hati siapa pun….”

PART 2

Kenyataan yang kau pegang membuatmu terluka, tapi kau tak’kan pernah tahu bahwa takdirNya tak akan pernah melukaimu. Cinta yang kau miliki adalah anugrah dariNya, karena tak mungkin jika anugerah yang Ia berikan padamu itu membuat mu terluka. Pegang janjiNya dan percayalah….

~Dhika Pov~

Ya Tuhan mengapa kejadian malam itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku, mengapa hasrat ini begitu besar untuk dapat memilikinya, mengapa aku menjadi seorang Pedofil seperti ini’! Aku mengacak-acak rambutku sambil menghela napas

Bagikan :