beberapa kali untuk dapat mengalihkan ingatan akan kejadian beberapa hari yang lalu dari kepalaku ini, kejadian di mana aku menyelinap masuk ke kamar adikku sendiri dan diam-diam menciumnya saat dia sedang terlelap.

     “Hey-hey, lo kenapa sih Dik? Setres banget. Udah beberapa hari ini lo gak fokus sama praktek lo, kasihan tuh pasien-pasien lo, mau sampe kapan lo limpahin semua pasien lo ke gue. Untung gue baik,” ujar sahabatku yang bernama Dimas yang aku kenal di Cambride saat menjalani study di Universitas Harvard jurusan kedokteran, dan karena Dimas juga berkewarga negaraan Indonesia sama seperti ku, maka dari itulah kami bisa akrab dan sekarang kami bisa bekerja di rumah sakit yang sama.

     Dimas adalah sahabat yang selalu ada di saat aku susah, Dimas juga tahu tentang perasaan cinta yang aku miliki untuk adik perempuanku itu dan begitu pula sebaliknya, aku juga tahu sedikit banyak tentang masalah yang di hadapi oleh Dimas

     “Sorry ya Dim… gue juga gak ngerti sama prasaan gue sendiri. Shit! Coba bisa gue buang, udah gur buang jauh-jauh perasaan ini,” grutuku.

     “Cause’your littel sister again hah? Gue gak bisa kasih saran apa-apa sama lo kalo masalahnya kaya gini. Elo itu gak salah kalo lo punya perasaan kaya gitu sama adik lo sendiri, kan lo sendiri yang cerita kalo lo sama dia itu gak ada hubungan darah sama sekali karena adik lo itu kan anak bawaan dari nyokap tiri lo yang sekarang,” terang Dimas mengingatkanku akan kebenarannya.

     Ya Cinta memang bukan adik kandungku , dia anak bawaan dari bunda tiriku saat ini. Bunda menikah dengan ayahku waktu aku berumur 10 tahun dan Cinta 3 tahun. Tapi setatus kamilah yang membuat perasaan cintaku  pada Cinta menjadi terlarang, aku pun tak mengerti mengapa perasaan sayangku ini menjadi berkembang lebih dari yang seharusnya ketika aku beranjak dewasa.

     Aku sudah mencoba untuk menepis segala prasaannya itu dan sudah mencoba untuk menjauhinya dengan cara menerima behasiswa untuk bersekolah di Amerika namun semua itu nihil, perasaanku itu semakin berkembang ketika aku kembali pulang dan dapat selalu melihatnya setiap saat, dan hal itu benar-benar membuat benteng pertahanan yang sudah aku bangun ketika di Amerika hancur begitu saja.

     “Lo sendiri gimana? Udah ada perkembangan tentang adik lo, bukannya tujuan lo pulang ke Indonesia untuk nyari adik lo?” tanyaku.

     “Belum, terlalu sulit untuk mencarinya karena informasi yang minim membuat gue susah untuk nyari dia sekarang,” ujar Dimas.

     “Lo kalo butuh bantuan gue bilang aja, gue siap bantu lo.”

     “Sip, Thanks ya Dik….”

     “Santai aja gue udah anggep lo kaya sodara gue sendiri. Oh ya, Nyokap ngundang lo makan malam di rumah sabtu besok. Waktu gue ceritain tentang lo sama nyokap, dia minta lo buat main ke rumah sekalian makan malam di rumah katanya mau kenal sama lo.”

     “Seriusan lo! Boleh-boleh sekalian gue mau lihat adik lo, kemarenkan belum sempat ketemu waktu di bandara karena gue harus cabut duluan, gue mau lihat seberapa cantik sih adik lo itu bisa-bisanya buat seorang Dhika Arya begitu tergila-gila padanya.”

     “Terserah lo deh, yang penting jangan sampe lo jatuh cinta sama dia!” tegasku.

     “Hahaha… ya-ya gue tahu kok, gue juga takut kali di bunuh sama lo. Tapi gimana pun’juga ada saatnya di mana nanti dia pasti punya pacar kan? lo mau sampai kapan kaya gini terus? Mending lo ungkapin deh prasaan lo sama dia biar lo lega dan gak kaya gini terus, ngenes gue lihat lo kaya gini,” saran Dimas.

     “Gue takut kalo dia gak bisa nerima gue, gue takut semua ini akan menjadi aneh bagi dia, apalagi selama ini setatus gue dan dia itu adik dan kakak,” ujarku lirih.

     “Tapi tetap saja adik dan kakak karena setatus,” ucap Dimas memperjelas.

     “Entahlah gue juga gak mau nyakitin prasaan keluarga gue terutama nyokap sama bokap gue.”

     “Terserah lo aja, kan lo juga yang ngejalaninnya gue cuma bisa dukung semua yang udah jadi keputusan buat lo, mungkin kalo gue yang ada di posisi lo, gue juga sama bingungnya kaya lo. Gue balik dulu masih banyak pasien,” jelas Dimas sambil menepuk pundakku.

     “Thanks ya Dim, jangan lupa sabtu besok!” seruku mengingatkannya lagi sebelum Dimas sempat menutup pintu ruangan praktekku itu.

     “Oky…” jawab Dimas sambil lalu pergi.

Bagikan :