Entah mengapa di sekolah ini, siswa-siswa perempuan kebanyakan berasal dari kaum sosialita. Mereka hanya memandang seseorang dari penampilan, menebak harga, dan merek yang digunakan orang lain. Jikalau itu murah, maka akan mendapat pandangan-pandangan yang merendahkan.

Sebenarnya aku tidak suka dengan keadaan seperti itu. Aku cukup menutup mata dan menyimpan rasa empatiku jauh di dalam sana, di dalam sanubariku. Aku tak dapat membayangkan kemarahan Tuhan saat mengetahui makhluk ciptaannya yang menilai dunia hanya dari harga. Kemarahan Tuhan akan manusia yang tidak sesuai dengan ajaran dari hati nurani.

*****

Bel istirahat berbunyi, aku tak akan keluar kelas, aku sengaja membawa roti bakar yang diolesi dengan peanut butter kesukaanku. Berada dalam ranselku, ransel coklat pemberian ayahku sebagai kado ulang tahun beberapa bulan yang lalu, disana kotak makananku terselip di antara beberapa buku tulis dan buku mata pelajaran hari ini. Ia seakan menjadi sesuatu yang asing dari sekian buku-bukuku, benda yang bukan terbuat dari kertas dan bukan alat sekolah.

Kotak makananku, penyelamat fungsi tubuhku pada bagian pencernaan di jam istirahat.

Bagikan :