Ada yang bergaung di dekat telingaku, suara yang sudah ke sekian kalinya ku dengar, begitu jelas hingga menyamarkan suara-suara pembicaraan teman sekelasku ataupun tawa mereka. Aku mencoba menutup telingaku dengan kedua telapak tangan, tidak mempan, suaranya terlalu jelas, bahkan lebih jelas dari biasanya.

“Naumi…” Dia menepuk pundakku, teman akrabku sejak semester 1 kemarin, Clara. Teman mungilku, tinggi badannya 6 sentimeter di bawahku, rambutnya keriting gantung hasil olahan salon, Clara adalah anak blasteran, mamanya berkebangsaan Jerman, papanya asli dari etnis Indonesia.

Aku beruntung bertemu dengannya di kelas ini, sebelumnya aku tak punya teman akrab, aku lebih senang menyendiri, tetapi Clara mampu membuatku berteman. Clara berbeda dari teman-temanku yang lain, dia menyenangkan, pembicaraan kami tidak membahas merek atau harga, meskipun dia berasal dari golongan orang kaya.

Aku tersontak kaget saat ia memanggil namaku. “Kau terlihat kebingungan, ada apa?” Rupanya Clara memperhatikanku dari tadi.

Aku tipe orang yang tidak berbagi masalah dengan orang lain. Namun masalah ini sudah beberapa kali menimpaku. Clara sahabatku yang terdekat, mungkin kali ini aku bisa berbagi sesuatu.

Bagikan :