“Bolehkah aku duduk disini? Tempat duduk di kantin ini sudah penuh…” suara maskulin itu tiba-tiba saja merambat di udara lalu masuk ke ruang pendengaranku tanpa permisi.

Aku memutar leherku dengan gerakan rotasi, memastikan apakah gelombang suara itu tertuju padaku atau tidak. Pertama ku lihat adalah selembar dasi yang ujungnya membentuk sudut 120 derajat, terikat rapi di kerah bajunya.

Astaga..!!

Itu Alfath, idola di sekolah ini, kini ia tampak jelas berada tepat di depanku. Aku terkesiap namun tetap memasang wajah tanpa ekspresi.
“Jadi aku boleh duduk disini, kan?” Dia mengajukan pertanyaan untuk yang kedua kalinya, sedikit membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Boleh…” satu kata itu keluar dari mulutku dengan spontan, tanpa ada demonstrasi atau kata-kata yang dapat digolongkan ke dalam himpunan hiperbola.

Senyumannya terlihat kaku saat aku mempersilahkannya duduk di sebelahku, dia agak pucat, pucat seperti orang sakit atau lebih kepada orang ketakutan. Mungkin dia telat makan atau cemas karena kantin penuh.

Bagikan :