Entahlah… sementara aku masih tanpa ekspresi. Makhluk ini terlalu tampan, fisiknya dapat dikategorikan hampir sempurna, terlalu mempesona, terlalu digemari, itu saja yang aku tau, selebihnya aku tak memiliki data ataupun informasi tentang dirinya, termasuk nama panjangnya.

“Mi..??” Clara menyenggol siku kiriku.
“Sepertinya kita jadi pusat perhatian disini…” bisiknya.
Lalu aku mencoba mencari kebenaran atas apa yang dikatakan Clara.

Aku menoleh dan melihat sekelilingku. Mata-mata sinis tergambar dari setiap wajah mereka, membuat kami merasa terusik. Menurutku ini adalah hal yang wajar, Alfath benar, tempat duduk disini memang sudah penuh dan hanya tempat duduk di sebelahku yang kosong, apa salahnya berbuat baik untuk orang lain. Lagian aku juga sibuk dengan makananku dan tidak mengambil keuntungan dengan si idola ini. Toh aku juga tidak mengidolakannya, maksudku aku tidak mengidolakan siapa-siapa.

Aku mengalihkan perhatianku kembali melahap bakso pesananku, menikmati aromanya yang mengunggah selera, kuhirup kuah yang ditaburi daun seledri yang tinggi antioksidan, sepertinya aku akan ketagihan dengan bakso ini.
Apakah Clara akan mengajakku ke kantin ini lagi besok, atau aku yang akan menyelinap sendirian. Tapi… aku tak menjamin, benakku tak menjamin untuk keberanian akan hal itu. Hal yang sederhana untuk dilakukan, tetapi sulit bagiku.

Bagikan :