“Wajar katamu? Ya ampun, Naumi. Dia itu idol sekolah, tak semua pengagumnya seberuntung dirimu…” Clara masih saja protes. Kurasa kami memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.

Aku hanya diam, bingung harus menjawab apa.

Bola mata Clara mengarah pada langit-langit atap di lorong sekolah. Kurasa fantasinya bermain lagi.
“Hmm… dia sangat tampan…”
“Tampan itu relatif, Ra. Biasanya pria-pria tampan memiliki banyak wanita di hidupnya.” Aku menyela. Clara menghentikan langkahnya, mungkin dia tak sependapat atas apa yang kukatakan.
“Dengar, Alfath itu tidak punya kekasih, bahkan tak ada satupun wanita di sekolah ini yang menyandang gelar sebagai mantannya. Semenjak kepindahannya ke sekolah kita sejak 1 tahun yang lalu, ia selalu menjadi topik terhangat di kalangan siswa perempuan, dia ramah dan santun, hatinya juga tampan”.
“Menurut gosip yang beredar, banyak wanita yang nekad menyatakan cinta kepada Alfath. Tak ada satupun dari mereka yang dipilihnya… Heran, memangnya wanita yang seperti apa yang dia inginkan.” Pipi Clara merona, matanya kembali pada langit-langit atap di lorong. Entah sesuatu apa yang dibayangkannya.

Katanya Alfath adalah siswa pindahan dari SMA yang berstandar internasional itu, tidak sembarang orang bisa sekolah disana.

Bagikan :