Tetapi entah mengapa ia memilih pindah ke sekolah ini atas kemauannya sendiri. Sekolah yang akreditasnya lebih rendah dari sekolahnya yang dulu.

*****

Ini moment buruk kedua setelah di kantin barusan. Setelah menjadi pusat perhatian dan sedikit mengganggu waktu makan kami, kini kami harus melewati kelas-kelas kaum sosialita. Melewati cobaan dunia yang ada di depanku ini. Mereka berada di luar kelas. Bel tanda jam pelajaran dimulai belum berbunyi.

Aku menundukkan kepalaku, menyisipkan helai rambut panjangku ke bagian belakang telinga, mencoba melindungi diri agar tak melakukan kontak mata dengan mereka. Kali ini pandangan mereka bukan menilai merek atau harga, tetapi pandangan yang menilai paras seseorang. Mereka saling berbisik membuatku merasa terpojok disini. Membuatku merasa tak sebanding dengan mereka yang memiliki tubuh dan wajah bak model iklan.

Ini karena insiden barusan. Mereka para paparazi, gosip di sekolah ini beredar begitu cepat, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan Alfath.

*****

Bagikan :