Pelayan itu mengangguk dan pergi. Dalam hati aku ingin protes pada pacarku. Masa seenaknya saja dia memesan tanpa bertanya dulu padaku? Dan dia memesan ice cream cokelat. Aku paling tidak suka ice cream cokelat. Aku selalu merasa ingin muntah setiap kali makan ice cream cokelat. Sebetulnya aku lebih menyukai ice cream vanila. Andre keterlaluan! Masa dia tidak tahu kesukaan pacarnya sendiri?!

        Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawakan pesanan Andre. Dua gelas ice cream cokelat. Mau tidak mau, aku harus menghabiskannya. Andre sudah berbaik hati memesankan dan menraktirku, masa masih mau protes? Lagipula, tak apalah sedikit berjuang melawan perasaan ingin muntah, yang penting bisa kencan dengan pacarku. Aku tak ingin mengecewakan hati pacarku dan merusak kencan pertamaku.

        “Gimana, Sayang? Enak?” tanya Andre lalu menyuapkan sesendok ice cream ke mulutnya.

        Aku mengangguk. “Iya, Sayang. Enak.” Kataku berdusta.

        “Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu.” Kata Andre tiba-tiba.

        “Apa?” Aku bertanya penasaran.

        “Tutup dulu matamu, dan jangan ngintip.” Suruh Andre.

        Aku menuruti Andre, kupejamkan kedua mataku dan tidak mengintip walau aku penasaran dan ingin sekali mengintip.

Bagikan :