Andre beranjak dari kursinya dan melangkah cepat ke kasir. Sedangkan aku masih duduk di bangku meja nomor 17 sambil berusaha menutupi wajahku dengan rambut supaya Papa tidak mengenaliku. Untunglah tak lama kemudian Andre kembali. Aku segera membawanya pergi dari tempat ini sambil terus menutupi wajahku. Tiba-tiba saja, angin kencang menerpa wajahku dan menyibakkan rambutku. Aku makin panik. Ku percepat langkahku. Namun langkahku terhenti saat tiba-tiba Papa memanggilku.

        “Clara!!”

        Mati aku! seruku dalam hati. Aku pura-pura tidak mendengar. Aku terus melangkah pergi. Pokoknya aku harus segera keluar dari sini. Kalaupun Papa berhasil memergokiku, paling tidak Papa tidak memarahiku disini—didepan pacarku.

        “Clara! Mau kemana kamu?” teriak Papa sambil berlari kecil mengejarku.

        “Ayo, Dre! Cepat!” ujarku sambil terus berlari bersama Andre.

        Terlambat! Papa berhasil mengejarku. Papa langsung mencekal tanganku. Dengan takut-takut, aku memandang wajah Papaku. Terlihat garang, sangar, dan merah padam. Sungguh menyeramkan.

        “Ngapain kamu di sini?” tanya Papa pelan dengan nada marah yang lebih menakutkan ketimbang marah yang diungkapkan dengan teriakan.

        Aku gugup. Aku tak tahu harus jawab apa.

Bagikan :