“Bisa-bisanya kamu bohongin Mama!” pekik Mama marah setelah Papa menceritakan kejadian tadi.

        “Bilangnya mau main sama Rosa, nggak tahunya kamu malah pergi sama pacarmu!” Mama melampiaskan amarahnya. Aku hanya menunduk pasrah.

        “Maaf, Ma.” Kataku pelan. Hanya itu yang bisa ku katakan.

        “Ngapain tadi kamu disana?” tanya Papa.

        Sempat terlintas di benakku untuk berbohong. Tapi sepertinya kebohongan tak berguna saat ini. Toh Papa sudah melihatnya sendiri. Kepalang basah, nyebur saja sekalian.

        Aku menelan ludah. “Kencan, Pa.” Jawabku takut-takut.

        “Kencan?!” pekik Mama, aku tersentak.

        “Udah berapa kali Mama sama Papa bilang, kamu nggak boleh pacaran! Apa kamu lupa?!” Mama mengomel.

        “Clara inget, Ma. Lagian baru sekali ini aku kencan.” Gerutuku.

        “Sekarang cuma sekali. Tapi kalau Mama kasih sekali, kamu pasti kamu minta berkali-kali. Biarpun sekali, tetep nggak boleh.” Ujar Mama tegas.

        “Lagian, Clara, menurut Papa pacarmu itu bukan cowok baik-baik. Dia nggak pantes buat kamu.” Timpal Papa.

Bagikan :