“Menyebalkan.” Aku mendesis pelan. Mataku menyipit tajam pada Ruvel yang begitu senang mendapatiku ditertawakan okeh rekan-rekan kerjaku. Sekedar tahu saja, Aku dan Ruvel sedang merayakan kesuksesan proyek yang berhasil kami tangani. Tapi, meskipun kita bekerja pada satu perusahaan. Ini adalah perusahaan ayahnya. Dan Ruvel bertindak menjadi presdire, sedangkan aku hanyalah karyawan biasa.

Ini semua terjadi karna permintaan ibu Ruvel yang menginginkanku kerja satu perusahaan dengan anaknya Ruvel. Ingin sekali menolak. Tapi apa daya, saat melihat mata memohon dari bibi. Tanpa sadar, aku langsung mengiyakannya begitu saja.

Dan di sinilah aku sekarang, duduk tepat didepannya sambil merasakan di tertawakan oleh semua orang karna ucapanku.

“Sudah.. Sudah. Kalian semua membuat wajah Luisa masam.” Salah seorang teman kerjaku menyuruh semua orang untuk berhenti tertawa karna mendapatiku berwajah masam.

“Masam atau tidak, dia tetap terlihat manis.” Aku tersenyum, kalimat yang keluar dari teman lelakiku tadi sukses membuat Ruvel mendelik. Seakan tidak suka jika ada seseorang memujiku. Dia kan sangat membenciku. Begitupun denganku.

Bagikan :