Ruvel menaikkan satu alisnya. “Apa kau sedang menyebut dirimu sendiri?” Ucapnya membalikkan perkataan yang ku katakan tadi. Huh. Menyebalkan.

Aku menggebrak meja. Berdiri dengan raut wajah kesal. “Aku tidak begitu! Kenapa kau suka sekali memancing kemarahanku sih!” Aku berteriak keras. Tidak memperdulikan semua orang yang sudah memandangiku.

“Ciri orang bodoh, selalu memakai emosi.” Aku menggeram kesal saat mendengar ucapan kejam yang dikatakan Ruvel. Kata-katanya memang selalu pedas. Dan entah kenapa, aku selalu terpancing emosi. Ku akui aku memang punya sifat temperamental. Tapi itu semata-mata hanya karna terpancing oleh kata-kata Ruvel yang menyebalkan. Kalau kalian jadi aku, pasti kalian juga akan merasakan apa yang seperti aku rasakan saat ini.

Aku mencoba menghela nafas panjang saat aku sadari semua orang memandangiku. Sepertinya mereka merasa terganggu dengan kekacauan yang sudah aku buat saat ini. “Terserah kau mau bilang apa.” Aku membuang muka, mengambil tas yang ada disampingku.

“Aku mau pergi.” Ungkapku dan langsung melenggang pergi meninggalkan meja makan. Kekesalanku selalu memuncak setiap kali bertengkar dengan Ruvel. Hal yang selalu terjadi setiap kali kami terlihat bersama.

Bagikan :