“Luisa, Sejak kapan kau datang?” Aku melirik Eric yang sudah berdiri disamping meja kerjaku. Menatapku dengan wajah bingung karna aku sudah berada dikantor sepagi ini.

“Sejak tadi pagi.” Gumaku pelan sambil berkutat pada komputerku. Sesekali mataku melirik Eric yang masih terdiam menatapku.

“Tadi, Presdire mencarimu. Sepertinya dia masih marah padamu karna kejadian semalam.” Ungkapnya. “Biarkan saja, toh aku tidak peduli dia mau marah atau tidak!” Aku mendengkus. Rencananya mau menghilangkan mood buruk. Malah Eric membicarakan soal Ruvel yang marah.

“Jangan begitu, Tuan Ruvel itu presdiremu. Meskipun keluarga kalian teman baik. Tapi, kau harus bisa mengatur rasa sopanmu kepada presdiremu sendiri. You know what I mean?”

“Aku tidak mengerti. dan tidak mau mengerti. sudahlah, aku mau bekerja lagi. Jangan ganggu aku!”

“Apanya yang tidak mau mengerti?” Aku mendelik. Mendengar suara dingin Ruvel yang tiba-tiba saja sudah ada dihadapanku. Eric yang semulanya berada didekat mejaku. Sudah kabur entah kemana. Meninggalkan aku bersama dengan sang presdire.

Bagikan :