Aku hanya menundukkan kepalanya. Berlagak sibuk dengan komputer yang masih menyala dihadapanku. Bisa ku rasakan, aura marah Ruvel semakin pekat saat aku mengacuhkan dirinya.

“Hey!” Aku berteriak. Terang saja, aku sedang mengerjakan tugasku. Dan dengan teganya, Ruvel mencabut colokan komputer yang sukses membuat layar komputerku mati.

Ugh! Semoga saja, document yang sudah ku buat tersimpan. Jika tidak, Lihat apa yang bisa aku lakukan padanya!

“Apa-apan sih kau ini! Pagi-pagi sudah membuat ribut, apa semalam belum cukup?” Aku beranjak dari kursiku. Mengamuk sengamuk-ngamuknya didepan Ruvel.

“Dimana sopan santunmu? Dikantor ini, Aku adalah presdiremu.” Ruvel nampak terganggu dengan ucapan kasarku. Matanya begitu tajam menyipit ke arahku. Sepertinya dia benar-benar marah.

“Aku tidak peduli. Rasanya menyebalkan harus bekerja dengan orang sepertimu. Aku mau mengundurkan diri. Secepatnya!” Astaga. Apa yang sudah ku katakan ini. melihat mata Ruvel yang menajam kepadaku. Dengan raut wajah murka. Ruvel begitu menyeramkan dimataku.

“Jadi kau ingin mengundurkan diri?” Nada bicara Ruvel begitu dingin melebihi biasanya, suaranya yang berat dengan mata tajamnya yang

Bagikan :