melihatku. Aku selalu takut jika dia sudah seperti sekarang ini. Dan bodohnya, aku selalu membuat Ruvel berakhir marah kepadaku.

Aku hanya mampu diam. Mengalihkan pandanganku yang tak kuasa menatap mata tajamnya yang mengerikan.

“Lakukan saja. Masih ada orang yang mau bekerja denganku. Tidak seperti dirimu yang terus mengeluh dan menuruti sifat tempramentalmu.” Aku tersentak saat mendengar jawaban dari Ruvel. Nadanya yang lantang dan terkesan tenang seakan tidak masalah jika aku mengundurkan diri. Seperti begitu senang aku melakukannya.

Aku sempat terdiam sejenak. Entah kenapa aku merasa sakit hati mendengar ucapan Ruvel barusan. Bukan itu maksudku. Mengundurkan diri? Aku tidak bermaksud melakukannya. Tadi aku hanya terbawa emosi. Tapi kenapa Ruvel bersikap begitu tenang menanggapi pengunduran diriku?

Tak terasa bulir air mataku turun jatuh. “Baiklah. Segera mungkin, aku akan membawanya padamu.”

Aku meraih tas kerjaku. Berlari pergi dengan air mata yang sudah membajiri wajahku. Aku sama sekali tidak memperdulikan semua orang yang menatapku dengan wajah bingung. Lagipula, sebentar lagi aku akan keluar dari perusahaan ini. tidak lagi melihat wajah Ruvel yang

Bagikan :