KENYATAAN PAHIT

Aku mulai curiga dengan gelagatnya akhir-akhir ini. Sering melamun, menjauh dariku ketika mengangkat telefon dari seseorang yang rasanya tak ingin sekali untuk  ku ketahui. Aku mencoba bersabar hingga aku tak mampu membendung rasa penasaranku. Entah apa yang ia sembunyikan, namun aku rasa ini akan mengancam pernikahan kami.

Aku menyibukkan diri di dapur setiap pagi seperti biasa. Menyiapkan sarapan suami dan putra-putriku yang masing-masing sarapan dengan menu berbeda. Setelah ku hidangkan semua sarapan untuk mereka, segera aku beranjak menengok keadaan Adrian dan Marsya. Kedua buah hatiku yang masing-masing berusia 7 dan 5 tahun.

“Kak Adrian, Adek Marsya dimana?” tanyaku yang baru menaiki setengah tangga dan mendapati putra sulungku tengah tersenyum jahil ke arahku. Apa lagi yang sudah dilakukan putraku itu kepada adiknya. Aku hanya mampu menggelengkan kepala ketika kudapati Marsya yang sedang menangis keluar dari kamarnya.

“Bunda….boneka Adek dipatahin tangannya sama Kak Adrian” Marsya mengadu kepadaku dengan menjulurkan kedua tangannya untuk minta digendong. Aku hanya tersenyum mendengar rajukan manjanya. Segera kugendong tubuhnya untuk menenangkan, menuruni tangga dengan hati-hati dan berjalan menuju meja makan. Mendudukkan Marsya dikursi dan menyuapkan sereal kesukaannya.

Mas Ardhani menatapku dengan tatapan bertanya karena melihat Marsya yang menyisakan aliran air mata. Dan aku  hanya memberikan tatapan bahwa semua baik-baik saja dan mulai menyeka sisa-sisa air mata Marsya. Ia berganti menatap Adrian  yang dengan lahap menyantap sandwichnya tanpa memperdulikan sang Ayah yang ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena nyaris setiap pagi, suasana rumah akan dibisingkan dengan tangisan dan rajukan Marsya yang mengeluhkan kejahilan Adrian.

Aku menghela nafas ketika Mas Ardhani berpamitan. Entahlah sudah berapa lama, tak ada lagi kecupan kening seperti biasa. Hanya sebuah senyum singkat yang ia lemparkan padaku sambil menganggukkan kepalanya, memberiku isyarat ia akan segera pergi mencari nafkah untuk kami.

Ku peluk kedua buah hatiku bersamaan sebagai ritual rutin sebelum berangkat ke sekolah seraya mengucapkan petuah-petuah untuk meredam kejahalan mereka.

“Kakak, jangan nakal ya di sekolah. Dan adek juga jangan manja pada Bu Sarah ya” pesanku pada mereka dan mereka pun selalu memamerkan senyum termanis yang mereka miliki.

Ku hela mereka sampai masuk mobil dan menunggu mobil itu lenyap dari pandanganku. Sambil melambaikan tangan, berharap kecemasan dan kegundahan tanpa alasan yang tiba-tiba meliputi relung hati ini lenyap seketika.

Bagikan :