Sudah beberapa bulan sejak berubahnya sikap suamiku dan aku masih mencoba berfikir keras apa yang sedang terjadi padanya. Sikapnya pada Adrian dan Marsya juga sedikit berubah. Tak ada lagi malam menonton film kartun bersama, tak ada lagi acara berenang bersama di hari minggu. Hingga aku harus mencari-cari alasan untuk mengelabuhi 2 malaikat kecilku yang selalu rewel jika Mas Ardhani tak mampu menepati janjinya untuk menghabiskan waktu libur kami bersama.

Siang ini seperti biasa ku antarkan bekal makan siang ke kantor suamiku. Sama seperti siang-siang sebelumnya, aku berjalan memasuki lobby kantor. Setelah tersenyum kepada resepsionis kulangkahkan kakiku mantap menuju lift yang akan membawaku ke ruangan suamiku. Dengan sesekali tersenyum kepada beberapa karyawan yang menyapaku di sepanjang perjalanan, akhirnya sampailah di depan ruangan suamiku. Aku berjalan melewati meja sekertaris yang tak bertuan, terlihat pintu sedikit terbuka. Dan entah kenapa siang itu aku berniat masuk ke ruangan suamiku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ku dengar suara canda tawa suamiku dengan seorang perempuan, membuatku mengurungkan niatku untuk segera menghambur ke ruangan itu. Aku mencoba bersikap tenang dan berpikir positif hingga sebuah kalimat yang membuatku sedikit sulit untuk menelaah terucap dari bibir perempuan yang entah siapa aku tak tahu.

“Sayang….minggu depan kita berlibur kemana lagi. Aku bosan, beberapa minggu ini kamu hanya mengajakku ke luar kota. Aku ingin berlibur ke luar negeri, hanya kita berdua” pintanya manja.

Masih tak bisa percaya, bisa saja ada laki-laki lain selain suamiku yang mungkin pasangan dari perempuan itu. Aku berusaha mengenyahkan semua pikiran-pikiran buruk yang tiba-tiba memenuhi isi kepalaku.

“Jangan, aku tidak bisa meninggalkan isteri dan anak-anakku sendiri disini. Tunggu sampai akhir tahun, aku janji akan mengajakmu berlibur kemanapun yang kamu mau”

Suara itu….suara yang amat sangat aku kenali walau dengan mata terpejam sekalipun. Aku bingung, segera  beranjak dari tempat ini ataukah memberanikan diri untuk masuk menemui Mas Ardhani dan melihat sosok perempuan yang mampu meremukkan hatiku hanya dengan permintaan dengan nada  yang manja itu. Aku menarik nafas panjang hingga akhirnya ku beranikan diri untuk membuka pintu itu lebih lebar dan mulai mencari kejanggalan-kejanggalan yang ada.

Aku diam terpana melihat sosok perempuan cantik duduk di atas pangkuan  Mas Ardhani dengan satu lengan yang melingkar di leher suamiku dan lengan lain mengelus-elus wajah tampan itu. Mereka terkesiap dengan kehadiranku, perempuan itu secepat kilat menjauhi Mas Ardhani dan Mas Ardhani menatapku dengan rasa bersalah dan segera beranjak untuk menghampiriku.

Bagikan :