Berharap air mataku tak meluncur begitu saja karena saat ini semua terasa sesak, sangat menyakitkan hingga sempat terlintas untuk menampar mereka berdua. Aku marah, aku harap aku masih mampu untuk mengendalikan amarahku ini. Kumundurkan langkah kakiku ketika Mas Ardhani mulai mendekatiku.

Aku menatapnya tak percaya dengan gelengan kepala kuat  yang menyiratkan keenggananku untuk ia dekati. Ku lirik perempuan itu bergegas keluar ingin meninggalkan kami.

“Tunggu!!!” seruku mencoba bersuara meskipun nafasku terasa tercekat. Ia berhenti dan Mas Ardhani semakin menatapku cemas. “Sudah berapa lama hubunganmu dengan Mas Ardhani?” aku tak berani menatap perempuan itu.

“Ka…ka…kami…kami…hubungan kami telah berjalan selama 2 tahun” jawabnya lirih.

Dan seketika itu serasa tubuhku terhempas entah kemana. Apa yang harus ku lakukan? Aku tak mampu berfikir jernih. Tetap mencoba untuk tak meneteskan buliran bening itu, namun rasanya semakin sesak.

“Ini makan siangmu Mas” ucapku, meletakkan bekal makan siang itu secepat mungkin di atas meja kerjanya dan segera berlari keluar dari ruangan terkutuk itu.

Aku masih mampu mendengar suara Mas Ardhani menyerukan namaku hingga aku berhasil bersembunyi di balik pintu lift dan mulai mengusap air mata yang sedari tadi ku tahan.

Pintu lift terbuka, aku berlari dengan menunduk hingga menabrak seseorang.

“Ma…maaf”

“Ardina!”

Ku tatap sosok yang ku tabrak itu karena saat ini aku tak begitu yakin jikalau aku mengenal sosok itu.

“Mas Ardhana!” ku dapati kakak kembar suamiku menatapku cemas.

Bagikan :