Deg….

Aku yang setengah sadar karena masih melamun mengalihkan pandanganku kepada kenek bus yang berdiri di sampingku. Kenek bus itu tersenyum dan menunjuk ke arah belakang dimana pemuda tadi melamarku. Tapi benarkah aku dilamar? Ku rasakan sosok itu mendekat, aku bingung. Tiba-tiba saja ia sudah berada tepat di sampingku menggantikan kenek bus itu. Ku beranikan diri mendongakkan kepalaku yang tertunduk. Saat ku angkat wajahku alangkah tetkejutnya diriku mendapati sosok Mas Ardhani tersenyum lembut kepadaku dan mulai bersimpuh dengan satu lutut menyodorkan cincin di sebuah kotak beludru berwarna merah.

Aku sibuk meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukanlah mimpi. Hingga suara maskulin Mas Ardhani membawaku kembali ke dunia nyata.

“Maukah engkau memberikan kehormatan kepadaku dengan menjadi wanita pertama dan terakhirku, Ardina?” ia bertanya sekali lagi.

Pasti saat ini wajahku memerah, bahagia serta malu karena dilamar di depan banyak orang. Mas Ardhani menatapku penuh harap. Aku masih gugup dan tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

“Terima…terima” semua penumpang bus ini berseru bersamaan.

Bagaimana bisa salah satu kembar bersaudara itu melamarku. Kami hanya beberapa kali mengobrol, itupun tak ada obrolan yang bersifat menjurus ke arah pernikahan ataupun perasaannya kepadaku.

Aku mengenalnya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, saat itu aku duduk di bangku kelas 1 dan ia duduk di bangku kelas 3. Bukan mengenalnya, lebih tepatnya kembar bersaudara itu yang terkenal. Tampan, sudah pasti itu karena alasan mengapa mereka digandrungi para cewek dari berbagai tingkatan kelas di SMAku dulu selain sifat cool dan kepandaiannya. Aku juga mengenal mereka karena mereka adalah kakak dari sahabat sekelasku dulu.

“Ardina?”

Aku masih bingung, harus menjawab apa. Aku juga tak mau bersikap munafik karena aku pun menyukainya. Ku gigit bibir bawahku untuk mengurangi sedikit kegugupanku.Setelah ku hembuskan nafas panjangku, ku tatap bola mata cokelat terang itu dan ku anggukkan kepalaku sebagai jawaban lamarannya.

Seketika bus berhenti dengan diiringi sorak penumpang yang ikut berbahagia untuk kami. Mas Ardhani menggandeng tanganku untuk turun dari bus itu setelah mengucapkan terima kasih kepada sopir, kenek, dan seluruh penumpang bus.

Bagikan :