Saat itulah aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Dilamar oleh laki-laki yang kusukai? Yang benar saja, ini masih terasa seperti mimpi. Aku sampai mencubit pipiku beberapa kali untuk membuatku merasa yakin bahwa ini bukan sekedar mimpi, hingga genggaman tangan Mas Ardhani dan tatapan penuh sayangnya menyadarkanku bahwa semua ini benar terjadi.

“Mas…”

“Ada apa?”

“Yang tadi….” dia tersenyum menatapku.

“Seminggu yang lalu aku melamarmu melalui ayahmu dan beliau menerimanya. Saat itu Arlinda sengaja ku ajak untuk mengalihkan perhatianmu”

Aku mencoba mengingat kembali peristiwa satu minggu yang lalu.

Ya, saat itu Arlinda mengatakan sangat ingin bertemu denganku padahal sehari sebelumnya kami telah menghabiskan waktu bersama. Aku tersenyum ragu mendengar penuturan Mas Ardhani. Memang sempat ku tanyakan mengapa Arlinda mengajak Mas Ardhani, dan jawaban yang ku terima adalah karena Mas Ardhani ingin membicarakan tentang bisnis.

“Mas…tapi kita…”, salahkan aku yang terlalu ragu karena kami sedikit pun tak pernah mengungkapkan perasaan kami.

“Ya, aku tahu. Tapi aku menyukaimu sejak pertama kali kamu datang ke rumahku menjenguk Arlinda” dia melemparkan senyum manisnya lagi.

Aku mengingat pertemuan pertama kami. Aku tak menyangka bahwa idola para siswi SMA kami adalah kakak Arlinda, membuatku terperangah.

“Aku selalu mengikuti perkembanganmu, maaf jika seperti penguntit. Tapi aku memang menyukaimu” Mas Ardhani mengusap tengkuknya dengan wajah sedikit memerah.

Aku tersipu mendengar hal itu. Kukembangkan senyumku sembari tertunduk malu. Mencoba menyembunyikan wajahku yang ikut merona.

“Jadi walaupun tadi kamu menolakku, aku akan tetap memaksamu untuk menjadi istriku karena ayahmu sudah memberikan restu” ia semakin mengeratkan genggamannya. “Jadilah yang pertama sekaligus yang terakhir untukku, Ardina”

flashback end

Bagikan :