Aku berjalan memasuki rumahku setelah ku rapikan penampilanku. Aku tak ingin buah hatiku mendapati ibundanya dalam keadaan kacau seperti ini.

“Bunda….” kedua buah hatiku berlari bersama menuju ke arahku. Ku coba untuk tetap tersenyum.

“Sayang maaf ya, Bunda sedikit pusing jadi tidak bisa bermain bersama” aku memeluk mereka. Ingin sekali menangis, tapi aku harus menyembunyikan ini semua dari mereka.

“Iya Bunda panas, Marsya temenin Bunda bobo’ ya?” Marsya meletakkan punggung tangannya ke keningku. Untuk sesaat aku benar-benar tersenyum dari hati melihat tingkah Marsya yang mengkhawatirkanku.

“Ngga’ usah sayang. Adek dan Kakak bobo’ siang juga ya?” mereka mengangguk dan segera ku tuntun  menaiki tangga dan menuju ke kamar mereka masing-masing.

Aku masuk ke dalam kamar kami. Mencoba untuk menenangkan diri, namun sepertinya sia-sia. Aku  berjalan menuju meja di sudut kamar, membuka beberapa laci secara berurutan dan menemukan salah satu telepon genggam milik suamiku. Biasanya aku enggan untuk mengetahui lebih jauh akan apa yang ada dalam benda pipih ini. Namun karena hal yang cukup mengguncang batinku tadi, mampu merubahku menjadi sosok yang sedikit lancang.

Ku usap layar telepon genggam itu dan mencoba menelusuri dari beberapa aplikasi pesan milik suamiku namun tak satupun ku dapatkan hal yang mencurigakan. Aku beralih  menuju folder foto-foto, entahlah kecurigaan ini terasa berlebihan. Ada beberapa foto kami berdua dan beberapa foto kami berempat saat berlibur di rumah saudara ketika liburan panjang kenaikan kelas Adrian. Dan alangkah terkejutnya aku ketika ku dapati foto-foto mesra suamiku dengan perempuan yang tadi ku temui di ruangannya. Berangkulan, saling menatap bahkan foto berciuman pun nampak disana.

Kukembalikan benda itu dalam keadaan semula setelah puas melihat foto-foto yang jumlahnya lebih banyak dari foto-foto kami bersama. Semudah itukah wanita itu hadir dalam pernikahan kami? Semudah itukah kebahagiaan kami terenggut?

Ku titikkan air mata yang sedari tadi mulai menggunung, dada ini semakin sesak hingga bernafas pun terasa sangat sukar. 9 tahun pernikahan kami, entah akan seperti apa jadinya esok?  Ku bekap bibirku agar tak terisak. Aku mencoba menerima kenyataan yang menyakitkan ini.

Dulu semua begitu indah….

Tapi kini…tinggallah “Dulu” yang hanya akan menjadi sebuah kenangan

Bagikan :