AIR MATA

Ardhani POV

Selalu ku tatap sosok itu. Sosok yang kini mulai sedikit mengacuhkanku jika kami hanya berdua saja. Menjelma menjadi dirinya yang dulu, berusaha untuk tetap tersenyum dan menyembunyikan luka yang entah seberapa dalamnya aku tak berani menduga. Itulah yang ia lakukan jika keluar dari kebersamaanku dengannya.

Tak ada yang berubah selain kemunculan sikap diamnya. Masih tetap menyiapkan setelan jas kerjaku, membuatkan sarapan favoritku, mengantarkan makan siang untukku walaupun sejak saat itu ia tak pernah menemaniku menyantap makan siang diruanganku seperti yang biasa kami lakukan selama ini. Ya, dia menitipkan bekal makan siangku kepada sekretaris dengan alasan tak ingin menggangguku.

Aku mengambil langkah lebar menuju ruangan pimpinan tertinggi perusahaan ini yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kembarku sendiri. Sekretarisnya tersenyum kepadaku sebelum ia menyilahkanku untuk masuk ke ruangan Mas Ardhana.

Ku kerutkan keningku ketika mendapati Arlinda, Ardina dan satu lagi perempuan yang menatap memelas kepadaku. Sandra, perempuan yang berhasil membuat Ardina selalu menangis tiap malam. Aku memang tak tahu kala ia menangis namun sisa-sisa air matanya masih tampak ketika ia terlelap karena kelelahan menangis.

“Duduk!” Mas Dhana memerintah dengan dingin. Apakah ia dan Arlinda sudah mengetahui semuanya? Aku bergerak ragu menghampiri mereka dan mengambil posisi berhadapan langsung dengan Mas Dhana yang seolah siap menerkamku.

“Sandra akan Mas mutasi ke cabang pimpinan Allisha” lanjutnya yang membuatku terkejut.

“Tapi Mas, itu di luar pulau dan mengapa Mas Dhana mengambil keputusan sepihak seperti ini tanpa memberitahuku terlebih dahulu?” pertanyaan spontanku sukses membuat Ardina menatapku tak percaya sekaligus kecewa. Entahlah, bukannya aku membela Sandra tapi ini kesalahan kami berdua dan mengapa hanya Sandra yang akan menanggungnya? “Aku juga salah satu pimpinan disini!”

“Tidak setelah kamu mempermalukan kami dengan tingkahmu yang seperti ABG keganjenan itu!” Mas Dhana membentakku. Aku terdiam, apa yang dikatakan Mas Dhana memang benar. “Dan kamu Sandra, akhir bulan ini kamu harus sudah sampai disana! Semua keperluan hidup kamu selama disana akan menjadi tanggung jawab penuh perusahaan.Silahkan kembali ke ruangan kamu sekarang!”

Bagikan :