Aku nggak mau mereka berteman denganku karna aku ini anak siapa, berpangkat apa. Yang aku mau mereka tulus berteman denganku karena pribadiku. Tulus itu yang paling penting.

Yapz dan dugaanku benar, ku setop bus dan aku dapat posisi yang paling mengerikan tepat berada di ambang pintu karna sesak dengan penumpang. Maklum jam sepagi ini waktunya orang beraktifitas berangkat kerja, sekolah , ngampus sepertiku, dll.

Dengan supir bus yang ugal-ugalan yang saling kejar mengejar bus lain untuk saingan setoran, banyak celotehan yang keluar dari mulut penumpang bus, “ati-ati to pak… pak, wong bawa manusia banyak yang punya nyawa” suara ibu-ibu yang sudah lansia.

“ ojo oyak-oyakan to pir-pir, alon-alon wong rejeki yo wes ono seng ngator (jangan kejar-kejaran donk supir, pelan-pelan karna rejeki sudah ada yang mengaturnya)” suara penumpang lain.

Aku hanya terdiam dengan seerat mungkin berpegangan dengan wajah yang tegang dengan terus berucap di dalam hatiku

“ya Allah mudahkan dan lindungi aku”.

Akhirnya aku sampai dengan selamat di kampus, kampus masih sepi karna memang masih terlalu pagi, hanya ada beberapa kendaraan yang sudah terparkir dan beberapa orang yang mondar mandir di kampus. Sambil menikmati suasana pagi dan kampus yang masih sepi belum terkotori dengan polusi, aku berjalan berlahan menuju kelas yang berada di lantai dua kampusku, dan itu kelas favoritku karena di sana aku bisa melihat pemandangan hijau desa-desa dan laut yang indah.

Bagikan :