Setelah jam kuliah pertam selesai aku, devi dan deva keluar dan menuruti kemauan devi yang tertunda tadi pagi untuk makan

“aku duduk di sini kalian pesen makan dulu aku udah makan, minum aja ya teh anget”

“ok! yonya” ledek deva.

“ rames dua teh anget tiga ya bu di meja sana”

“ya nduk” jawab ibu kantin.

“ hari ini kita full ya, ach padahal aku mau nonton sepak bola turnamen antar fakultas, sambil cuci mata, hahaha” ucap devi sambil cengengesan.

“ kamu mau cucimata perlu tak bawain sabun biar bersih, hhh” kata deva, aku hanya tersenyum mendengar celotehan mereka,

“ kayaknya nggak perlu cucimata nanti deh sekarang juga udah bening ni mata”

kata Devi tiba-tiba berpaling pandangan ke arah belakangku, dengan serentak aku dan Deva menengok ke belakang mengikuti arah pandang. Devi dan melihat seorang pemuda yang tampan, rapi, santun, dengan senyumnya yang tulus. Ya dia kak Fikri senior kami dan idola kami juga, tapi Cuma Devi sama Deva yang begitu menggilainya.

“hemmm, subhanallah senyumnya nembus sampe hati, ke jantung, ke perut …” kata devi dan deva saut sautan “kalian terpesona apa laper” jawab ku dengan memandangan mereka bingung.

”laper si, hahahah” kata Deva dibarengi dengan tawa buyar kami. Mereka mulai menyantap makanan mereka, dan aku duduk di dekat meraka

Bagikan :