“yee, kok aku si kamu juga kan iya” mereka berdepat saling menyalahkan.

aku hanya tersenyum melihat mereka saling menyangkal. kami kelur kelas dan tiba-tiba deva dan devi menarik tangan kanan dan kiriku berlari menuruni tangga

“hey!… kalian kenapa si? Mau kemana? Pelen-pelan donk!” pintaku dengan ekspresi heran yang mereka sambut dengan senyum santai mereka

“udah ayo ikut keburu telat!”

“hem untung belum selesai, ayo duduk!” duduk sambil keheranan melihat deva dan devi bergantian, yang ternyata membawaku ke seminar yang di tawarkan kak Fikri “hem … dasar modus kalian, bilang aja mau liat kak Fikri pake buru-buru pelan-pelan kan bisa” “suuuuuttttt!”

serentak deva dan devi menyetopku

“hem, subhanallah kak Fikri santunnya kalo ngomong, gaya bicaranya lembut”

devi sambil menyanggahkan tangannya ke dagunya dengan ekspresi terpesona

”betah dech sampai besok di sini” tambah Deva dengan ekspresi yang sama, aku tengak tengok sesekali melihat mereka dengan tersenyum heran, heran karna melihat mereka begitu terpesona dengan sosok kak Fikri, memang tak bisa di sangkal sosok kak Fikri yang baik, tampan, soleh, sopan pula jadi wajar kalau banyak gadis-gadis mengidolakannya. Aku beranjak berdiri karna acara sudah selesai tapi deva dan devi masih melongo memandangi kak Fikri sambil senyum-senyum sendiri

Bagikan :