“Bukankah itu bagus, ayah? Semua orang takut padamu dan tak ada yang berani melawanmu.” Mata Aaron berkilatan. Seakan ingin segera tahu apa maksud teka-teki ayahnya. Nicholas tertawa gemas.

            “Kalau kau tak punya musuh lagi, untuk apa ada superhero? Kau hanya akan menjadi pengangguran.” Nicholas berhenti di ruang makan dan menatap seorang wanita berambut coklat auburn yang sedang berdiri di sana. Wanita itu melihat kedatangan Nicholas dan Aaron lalu tersenyum dan berjalan menghampiri mereka seraya membuka celemeknya.

            Nicholas mengangsurkan Aaron, dan lelaki kecil itu pun berpindah ke lengan wanita itu. “Maka aku akan menguasai dunia dengan kebaikan. Tidak akan ada lagi kejahatan, dan semua orang bisa hidup senang.” Aaron masih saja berceloteh riang menceritakan imajinasinya. Lalu ia menatap ayahnya seakan meminta persetujuan.

            “Terdengar menyenangkan. Mungkin setelah itu kau bisa pensiun menjadi superhero dan memulai kehidupanmu yang biasa. Bekerja dan menjalani rutinitas yang membosankan. Tidakkah itu jauh lebih melelahkan daripada menghajar seribu musuh?” Nicholas melangkah mendekati meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Ia menatap Aaron kecil dengan senyum dikulum. Lelaki kecilnya itu menatapnya dengan mata bulat besar yang menggemaskan.

            “Ya. Aku tidak ingin bekerja. Aku ingin menghajar banyak musuh seperti Captain America. Bang! Bang! Bang!” Bibir mungil Aaron berceloteh tiada henti saat Patricia mendudukkannya di kursi meja makan, persis di depan ayahnya. Tangan kecilnya bergerak-gerak lincah seakan sedang menghajar musuh. Nicholas tertawa melihat tingkah lucu anak semata wayangnya itu.

            Wanita itu mengambil sepiring yang masing-masing berisi bacon, jamur, sosis, telur, tomat dan setangkup roti, yang hampir kesemuanya dipanggang. Ia meletakkannya satu persatu di depan Nicholas dan Aaron. Aroma harum dan khas yang menguar membuat lidah bergoyang ingin segera menyantapnya. Pupil mata Aaron membesar, ia menatap piring itu dengan penuh tekad.

            “Ayo habiskan pahlawan kecil. Captain America juga butuh makan agar bisa bertarung.” Patricia menatap wajah bulat Aaron dengan lembut. Ia mengambil sebuah serbet dan menggantungkannya di sela-sela leher kemeja lelaki kecil itu. Dengan sigap

Bagikan :