Aaron mengambil sebuah garpu dan pisau makan di hadapannya. Memotong-motong sosis dan bacon di piringnya dengan penuh semangat. Lalu melahapnya dengan potongan-potongan besar.

            “Mengapa English Breakfast buatanmu selalu nikmat?” Nicholas menatap Patricia sembari terus mengunyah makanannya. Patricia memalingkan wajahnya pada Nicholas dan tersenyum lembut.

Ia berdiri dan menghampiri Nicholas. Memegang lembut kedua pundak lelaki itu dan berbisik di telinganya. “Karena dibuat dengan cinta.” Ujarnya sambil lalu.

“Ibu aku ingin minum.” Aaron merengek, alis tebalnya berkerut. Sesekali ia tersedak. Rupanya ia merasa kerongkongannya terlalu banyak memasukkan makanan dan sekarang ia sangat butuh air untuk memuluskan jalannya makanan itu lagi. Patricia mengambil sebuah teko berisi jus jeruk dan menuangkannya ke gelas kosong di dekat Aaron.

“Bisakah kau makan dengan perlahan? Kau masih punya banyak waktu untuk menghabiskan itu semua.” Patricia menyodorkan segelas jus jeruk yang langsung di teguk dengan lahap oleh Aaron. Lelaki kecilnya itu tak menjawab pertanyaannya dan masih meneguk segelas jus jeruk itu hingga tandas.

Aaron menaruh gelas kosong itu di samping piringnya. “Aku sangat lapar.” Ujarnya acuh. Masih dengan wajah polosnya, ia kembali melahap suap demi suap sepiring English Breakfast di hadapannya itu.

Nicholas tersenyum melihat kesemua pemandangan itu. Lalu ia mengangkat lengannya dan melihat waktu yang tertera di sana. “Oh tidak, aku akan terlambat.” Ia menyuapkan suapan terakhirnya lalu buru-buru bangkit dari kursi dan menuangkan jus jeruk di gelasnya. Menegukknya hingga habis lalu menghampiri Patricia yang masih berdiri di samping Aaron. Dan mengecup kening istrinya itu dengan penuh sayang.

“Ada pertemuan lagi?” Tanya wanita itu sembari mengisi ulang gelas Aaron yang sudah kosong.

Nicholas mencium pipi bulat berisi Aaron dan mengacak rambut coklat terang itu dengan gemas. “Ya, jam sembilan ini aku mengadakan janji temu dengan Mr. Clinton.” Nicholas mencubit pipi Aaron dan anak lelakinya itu sedikit mengerenyit. “Sampai nanti jagoan kecil.”

Bagikan :