Mr. Clinton tersenyum ramah sekali lagi sebelum melangkah keluar dan menghilang dari hadapannya.

            Nicholas menghela nafas panjangnya. Pertemuan pagi ini dengan Mr. Clinton sudah cukup menguras waktu dan pikirannya. Mr. Clinton adalah salah satu pebisnis paling berpengaruh di Kota New York. Pria itu memiliki beberapa perusahaan dan menanamkan sahamnya di banyak tempat. Termasuk perusahaan tempat Nicholas bekerja ini. Relasi bisnisnya tersebar di segala penjuru Amerika. Banyak orang menjulukinya manusia laba-laba. Bukan, bukan karena ia ternyata jelmaan Peter Parker di dunia nyata. Tapi lebih karena keahliannya untuk mempengaruhi rekan-rekan bisnisnya agar mau bekerjasama dengan dirinya. Dunia bisnis sudah mendarah daging di tubuhnya dan jaringannya yang tersebar luas membuatnya persis seperti seekor laba-laba dengan jaring-jaringnya yang mampu menjerat siapa saja yang ia inginkan. Dan jika ia sendiri yang mau menemui Nicholas, itu berarti ia tahu siapa yang ia temui.

            Sebenarnya Nicholas tak ingin terlalu jauh menjalin keakraban kerjasama dengan pria itu. Ya, pria itu memang bertangan dingin dalam hal bisnis apapun. Namun perangainya tak terlalu baik. Ia selalu mengambil lebih banyak keuntungan dari yang sudah disepakati dengan rekan kerjanya. Dan tentunya, ia tak akan ingin merugi sepeserpun. Tapi untuk saat ini, bekerjasama dengan Mr. Clinton adalah hal terbaik yang bisa dilakukan Nicholas untuk perusahaannya. Omzet perusahaannya yang cenderung tak stabil akhir-akhir ini membuatnya harus memutar otak.

            Nicholas melonggarkan dasinya dan membanting tubuhnya ke atas kursi kerjanya. Ini masih tengah hari dan ia sudah merasa kelelahan. Matahari Kota New York sedang bersinar terik di luar. Dan walaupun ruang kerjanya berpendingin, tapi kegerahan masih saja dirasakannya. Apalagi setelah ia membaca setumpuk laporan di meja kerjanya pagi ini. Nicholas menatap lembar-lembar dokumen yang tergeletak di meja kerjanya. Membukannya satu persatu dan tiap kali ia membuka halamannya, alisnya bertaut. Sesekali ia menghela nafas panjang. Kepalanya berdenyut.

            Lama ia berkutat pada lembar-lembar dokumen itu, dengan teliti membacanya satu persatu. Lalu ketukan keras di pintu membuyarkan konsentrasinya.

“Masuk.” Sahutnya sekilas setelah melihat ke arah pintu. Kemudian kembali terpekur pada lembaran-lembaran kertas di tangannya.

Bagikan :