“Kaji ulang kontrak itu dan berikan padaku sore ini juga. Hubungi pihak Malvin Group dan bilang pada mereka untuk menunda kelanjutan kerjasama hingga minggu depan.” Nicholas masih menatap Taylor tajam. Kedua sikunya bertumpu di atas meja dan jari-jarinya saling mengait. “Ini juga kesalahanmu Miss Brighton. Kau yang harus memperbaiki semuanya.”

            Taylor mengangguk gugup. Matanya terus menghindari tatapan Nicholas. “Baik Mr. Redell. Permisi.” Wanita itu mengambil map hijau di meja Nicholas dan berbalik ke arah ke pintu.

            “Taylor…” Panggil Nicholas pelan saat wanita itu sudah beberapa langkah di depan pintu. “Aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Mrs. Scott memang wakilku, namun segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini juga harus melalui persetujuanku. Aku tidak ingin salah satu staf ku merusak nama perusahaan.” Nada bicaranya tak lagi mengeras. Namun masih ada keseriusan yang jelas terpancar di wajahnya.

            Pipi wanita itu bersemu merah karena malu. Malu akan kesalahan yang dilakukannya di hadapan atasannya ini. “Maafkan saya Mr. Redell.” Taylor tersenyum masam dan segera setelah Nicholas mengangguk mempersilahkannya untuk pergi, ia pun menghilang dari balik pintu.

            Nicholas menghela nafas panjangnya dan merebahkan punggungnya sekali lagi ke kursi. Sudah berapa kali ia menghela nafas panjang hari ini. Oh tidak, hari ini memang benar-benar melelahkan baginya. Ia menyingsing pergelangan bajunya sedikit. Sudah hampir pukul dua siang dan ia belum beristirahat sama sekali. Bahkan untuk mengambil segelas minum pun ia tak sempat.

            Nicholas berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dispenser di seberang ruangan. Saat air sudah memenuhi gelas kosong beningnya, ia meneguk air itu hingga habis. Rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Sesekali tangannya mengusap rambut coklat lurus itu ke belakang. Rasa hausnya masih mengganjal di kerongkongan. Ia mengisi gelasnya hingga penuh sekali lagi. Belum sempat ia meneguk air itu, suara ketukan keras di pintu mengejutkannya. Belum sempat juga ia mengijinkan orang itu untuk masuk. Pintu sudah terbuka dan seorang wanita berusia awal empat puluhan masuk dengan tergesa.

Bagikan :