“Mengapa kau batalkan kontrak dengan Malvin Group, Nicholas?” Wanita itu datang dengan alis bertaut dan warna muka yang menyebalkan. Langsung memberondong Nicholas dengan pertanyaan tanpa peduli apa yang sedang dilakukan lelaki itu.

            “Aku tidak membatalkannya. Aku hanya menundanya.” Nicholas meneguk minumannya hingga tandas. Lalu menaruh gelas kosong itu begitu saja dan berjalan ke meja kerjanya tanpa menatap wajah wanita itu.

            “Tapi kau tahu bukan, Malvin Group adalah perusahaan besar. Kau tak bisa bermain-main dengan mereka.” Wanita itu melipat kedua tangannya di atas dada.

            Nicholas mencondongkan tubuhnya ke depan, ke arah wanita itu. Menumpu kedua sikunya di atas meja dan mengaitkan jari-jarinya. “Aku tahu. Tapi bukan aku yang sedang bermain-main dengan mereka.”

            “Apa maksudmu?”

            “Aku harap kita sama-sama tahu posisi masing-masing di perusahaan ini. Aku tak akan menunda kontrak itu jika kau tak lancang menandatanganinya tanpa persetujuanku.” Tatapan Nicholas menajam dan wajahnya kembali serius. Wanita itu mendongakkan kepalanya, seakan merasa tertantang dengan pernyataan Nicholas.

            “Yang perlu kau ingat, aku juga memiliki hak yang sama untuk memutuskan apa yang diperlukan perusahaan ini Mr. Redell.”

            “Setidaknya kau bisa membiarkanku mempelajari kontrak itu terlebih dahulu sebelum menandatanganinya Mrs. Scott.”

            “Aku sudah melihat kesepakatan kerjasama yang mereka buat.”

            “Oh ya? Dan apakah kau mempelajari lebih lanjut apa yang sebenarnya perusahaan ini butuhkan dari kontrak itu?”

            Mrs. Scott terdiam. Wajahnya terlihat sedikit gelagapan. Ia berpikir keras. Namun tak juga berhasil menemukan jawaban.

            “Bagus. Aku tahu kau tergiur keuntungan yang mereka janjikan dalam kontrak itu. Tapi sebenarnya kau tak tahu apa yang dibutuhkan perusahaan ini.” Nicholas mendongakkan kepalanya, merasa menang. Mrs. Scott mendengus kesal dan wajahnya terlihat memerah.

Bagikan :