Suara klakson mobil di belakangku menyeretku kembali ke alam sadar. Perlahan aku kembali menginjak pedal gas karena mobil di depanku sudah berjalan beberapa meter.

Embusan nafas frustasi menyertai keheninganku, tidak seratus persen hening memang. Karena radio di mobil bercuap-cuap menemani. Di kantor, aku memang salah satu karyawan yang cukup berpotensi. Jadi kefrustasianku bukan karena ada masalah berarti di kantor. Ya benar, kehidupan pribadiku lah yang membuatku frustasi seperti ini.

Entah berapa lama aku melamun, hingga akhirnya tatapanku terhenti pada sebuah toko bunga yang berada di tepi jalan. Bangunan yang didominasi dengan kayu-kayu dan dipadukan dengan funitur berwarna putih membuat bangunan itu cukup klasik. Bunga-bunga yang didominasi berbagai macam bunga mawar membuat toko bunga itu sangat menarik. Sangat menarik hingga aku selalu memandangnya setiap melewati jalan ini. Ah…sudah lama sekali aku tidak membeli bunga untuk seseorang.
‘Ayolah Adam… Hentikan khayalanmu’. Kembali aku mengembuskan nafas frustasi. Kemacetan, kesendirian, plus kehidupan yang datar membuat otak dan lambungku bekerja keras.

Dan aku benar-benar lapar sekarang. Aku menginjak pedal gas sekali lagi. Hanya sedikit mungkin tidak sampai satu meter dari tempatku yang semula. Kembali aku mengamati keadaan sekitarku.

Bagikan :