“Pagi, Warno,” jawabku acuh. Kurentangkan kedua tanganku, lalu beranjak dari kursi. Berjalan menuju jendela dan menatap lekat dinding yang terbuat dari kaca, hingga aku dapat melihat suasana pagi hari kota Jakarta dari ruanganku yang berada di lantai delapan belas.

“Maaf, Pak Adam. Pak Adam mau saya belikan sarapan, atau mungkin bapak ingin saya buatkan minuman?” tanya Warno disela kegiatan menyapunya menginterupsi pandanganku yang kini beralih padanya. Hari ini memang hari libur, jadi tidak disiapkan minuman seperti biasa di meja. Dan Warno memang seperti nya sudah hafal dengan kebiasaanku yang tidak suka disediakan apapun jika aku tidak memintanya.

“Tidak usah, Warno. Saya akan pergi sebentar lagi. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu,” jawabku tanpa melihat Warno karena kini aku sudah berada di depan mejaku merapikan lembar-lembar file yang berserakan di meja. Aku memang orang yang sangat dingin, acuh juga pendiam. Aku tidak akan berbicara jika memang tidak diperlukan. Ya, aku memang menjadi pribadi yang lain sejak lima tahun lalu. Bisa dikatakan wanita itu berhasil membuatku terpuruk. Dan kini aku sudah lelah dengan bermain-main dengan cinta. Dan beginilah aku sekarang. Sangat jauh dari kata hangat.

Bagikan :