“Hanya berbeda sedikit, tak masalah.” Ama terus memberikan senyuman indahnya, Jung Min yang sedari tadi menunduk, akhirnya mendongak dan menatap keindahan senyuman di depan matanya, namun ia langsung menunduk kembali dan menanyakan pada sekretaris Kim tentang apa saja yang harus ia kerjakan, sebelum menjelaskan sekretaris Kim meminta ijin dan mengantarkan Jung Min ke tempat tidurnya.

Jung min masih memikirkan kejadian beberapa menit lalu. Membiarkan ruang di hatinya dipenuhi bunga – bunga kesejukan. Wajah oriental memenuhi ruang pikiran, senyum yang meneduhkan menjadi candu tak terelakan lagi. Jung Min menyentuh dadanya, merasakan detak demi detak jantu memompa kekuatan. Pertarungan antara kerinduan dan pengharapan.

Keesokan paginya jung min sudah siap di samping mobil menunggu Ama, sang majikan yang merajai hati dan pikirannya.

“Apa kamu sudah menunggu lama?” Tanya Ama dengan mimik menyesal.

“Tidak, Nona. Baru beberapa menit… hehe.”

“Maaf ya, kita bisa berangkat sekarang?”

“Tentu, Nona.”

Perjalanan terasa sunyi, tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Hening, deru kendaraan yang berlalu lalang menggema keras. Pancaran sang surya menembus pori-pori. Diiringi sapaan angin, halus memeluk ketegangan di antara mereka.

Bagikan :