Sesampainya di kampus, saat Jung Min membukakan pintu untuk Ama semua mahasiswi memandang takjub padanya, seolah ia adalah pangeran dari negeri dongeng. Siapa yang tidak takjub? Warna kulit di atas rata-rata, wajah mulus dan berseri. Dagu runcing dan mata yang selalu bersinar memadu sempurna. Jung Min mengenakan seragam yang menampakan karisma tersendiri, serta senyum yang menghanyutkan menjadikannya tokoh utama. Jung Min merasa dirinya seperti artis, mendapat pandangan yang tidak dimengerti oleh dirinya.

“Mereka mengagumimu,” seru Ama yang berhasil mengalihkan perhatian Jung Min. Jung Min bertanya mengapa demikian, namun Ama hanya tersenyum dan berkata ia tak perlu di jemput. Jung Min mengangguk dan tersenyum di belakang punggung Ama, tangannya memegang dada, jantungnya berdetak lebih cepat seketika Jung Min berbalik dan menetralkan perasaannya. Ia harus tahu diri. Walau berharap.

Lalu bagaimana denganmu? Apa kau mengagumiku juga?

“Apa yang harus aku lakukan? Baru pertama bekerja sudah seperti ini, setiap hari pasti akan bertemu, apa yang harus aku perbuat?” batin Jung Min. Perlahan ia melangkahkan kaki dan memasuki sebuah mobil silver milik keluarga Ama. Meski Ama sudah genap berusia 19 tahun, namun dia belum ingin memiliki kendaraan pribadi kecuali sepeda, yah sejak kecil Ama lebih suka mengendarai sepeda meski jarak yang di tujuh tidak dekat. Namun hal itu tidak berlaku pada masa kini karna ia memiliki trauma di balik senyumnya. Senyum indah serta banyaknya kebisuan adalah karena sebuah alasan.

***

Bagikan :