“Begitukah? Mereka baik-baik saja.”

“Lantas apa yang membuatmu pergi ke negara ini, dan di usia yang masih belia…” Heo Young Saeng menggantungkan kalimat berikutnya.

“Ini adalah keinginan pribadi, sudah sejak sekolah saya belajar bahasa, dan berkeinginan bisa singgah ke sini untuk belajar dengan biaya sendiri. Dan kebetulan, Paman. Maksud saya sekretaris Kim mengetahui dan menawarkan pekerjaan ini,” jawab Jung Min tanpa ada yang ditutup-tutupi. Heo Young Saeng salut akan kegigihan pemuda di depannya, mengingatkan pada almarhum istrinya dan anak pertamanya. Sebenarnya Ama bukanlah anak tunggal, jika rahasia itu terbongkar.

“Masuklah besok ke universitas yang sama dengan Ama, serta jaga dia dengan baik, anggap dia saudaramu seorang adik yang harus kamu jaga, meski usia kamu jauh lebih muda, bisakah berjanji akan hal itu?” pintanya dengan raut yang tidak bisa di tangkap oleh Jung Min. Jung Min hanya diam, dia berpikir banyak kesempatan untuk dekat dengan Ama sang pujaan hati. Tapi di sisi lain, ia akan berhutang besar pada ayah Ama.

“Mengapa diam? Apa terlalu berat? Semua biaya akan saya tanggung serta gaji akan tetap ada begitupun uang saku.”

“Bukan begitu, Tuan. Hanya saja Tuan terlalu baik jika melakukan semua itu pada saya yang…”

“Tidak perlu dilanjutkan, karena kamu pintar dan anak serta keponakan dari orang yang saya percaya itu sudah cukup. Terimalah…”

Sejenak ia berpikir dan menganggukan kepala serta berkata, “Saya akan menerimanya, dan terima kasih, Tuan.”

Bagikan :