Ama menggandeng Jung Min hingga depan mobil, Ama tersenyum dan membuka daun pintu mobil. Duduk tenang menunggu Jung Min yang kebingungan.

“Ayo, tunggu apa lagi?”

Sepanjang jalan Ama tersenyum, Jung Min merasa senang meski sekelebat kejadian tadi mengkikuk hatinya, apa karena pria itu Ama tersenyum?

Ama langsung membuka pintu, tersenyum pada Jung Min.

“Gomawo,” ucap Ama membungkuk dan segera berlalu.

Jung Min diam di tempat, beberapa menit kemudian dia menuju ke dalam kamar, karena pekerjaannya hanya sebagai sopir pribadi, tidak perlu melakukan pekerjaan rumah lainnya, sudah pasti, pekerja di rumah tersebut tidak kurang dari sepuluh orang dan memiliki bagian-bagiannya sendiri. Di dalam kamar jung min tidak konsen mengerjakan tugasnya, padahal itu bukan hal yang sulit bagi seorang jung min, tapi tanpa alasan semua tidak bisa di kerjakan sedikit pun.

“Akhhhhh…” erang Jung Min, pikirannya lebih terbakar dari teriknya mentari.

“Tidakkkk!” teriaknya kencang, sehingga membangunkan ama yang baru terlelap, karena kamar mereka berdampingan dan di lantai atas. Ama segera bangun namun ia urungkan dan kembali memejamkan matanya.

“Aku ingin menulis,” tangannya meraih pena serta buku besar hijau miliknya.

Bagikan :