Louis mulai memperlambat langkahnya begitu jaraknya dengan rekan-rekan kerjanya semakin dekat. Perlahan senyumnya memudar. Ia tidak dapat menemukan sosok wanita yang sangat ingin ia temui diantara kumpulan orang itu. Walaupun matanya terus bergerak lincah berusaha mencari sosok yang sangat ia rindukan itu, tetapi hasilnya tetap saja nihil. Sampai akhirnya rasa kecewa menyelimutinya.

Louis makin berjalan malas. Ia menatap sejenak kotak kecil berwarna merah yang ia genggam sejak turun dari pesawat, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya keras. Ia tengah berusaha menyembuhkan perasaan kecewanya. Padahal ia ingin sekali menyampaikan perasaan sayangnya pada wanita itu di tengah-tengah keramaian suasana bandara. Ia ingin semua orang tau siapa wanita yang sangat ingin ia lindungi. Tapi hari yang sangat ia tunggu ini ternyata tidak berjalan sesuai rencana.

Louis berusaha memaklumi ketidak hadiran wanita itu. Mungkin wanita itu tengah sibuk dengan urusan yang lebih penting, mengingat posisinya sebagai anak direktur di perusahaan tempat Louis bekerja. Sedangkan posisi Louis hanyalah seorang pegawai biasa. Ia bahkan sempat tidak percaya diri karena menyukai seorang anak direktur, tapi kedekatannya dengan wanita itu membuatnya meyakinkan dirinya sendiri akan kegigihan perasaannya.

Louis akhirnya mengakhiri tatapannya pada kotak kecil itu. Masih dengan perasaan yang sedikit kecewa, ia berusaha menyimpan kembali kotak itu ke dalam saku jaketnya. Tapi, belum juga niat itu terwujud, Louis merasakan seseorang menabraknya cukup keras hingga keduanya terjatuh di lantai bandara.

Bagikan :