“Kak Sam,” sapa Krystal antusias kepada pria yang bernama Samuel itu.

“Ya, apa yang ingin kau katakan? Aku harus segera kembali ke rumah sakit,” ucap Samuel seramah mungkin. Ia sudah cukup lama mengenal Krystal. Dan ia juga cukup mengerti keadaan Krystal yang sangat membutuhkan pertolongan darinya. Ia menyayangi Krystal seperti layaknya seorang kakak terhadap adiknya.

“Aku mengerti, aku hanya ingin menyampaikan ini.” Krystal meletakkan sebuah amplop coklat yang sedikit tebal di hadapan Samuel. “Aku baru bisa mencicilnya. Tapi aku pasti akan melunasi biaya pengobatannya,” mata Krystal menatap pria di depannya dengan pancaran kesungguhan. Ia sangat butuh pertolongan dari Samuel.

Samuel mulai menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia melakukan ritual ini dihampir setiap kali pertemuannya dengan Krystal.

“Krystal, aku sudah berusaha untuk membantumu selama ini. Tapi pihak rumah sakit tetap tidak akan mau mengerti keadaanmu. Aku juga tidak bisa berbuat banyak. Bila kau tidak melunasi sisanya…” Samuel mulai menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Krystal yang mulai berkaca-kaca. “Aku tidak yakin dia masih bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit.”

“Kak Sam, tolong bantu aku. Aku pasti akan segera melunasi sisa pembayarannya. Dia harus tetap dirawat. Hanya dia milikku satu-satunya di dunia ini,” suara Krystal makin terisak. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak mengalir keluar. Mendengar kenyataan dari Samuel barusan, membuat dadanya sesak. Ia tidak berani membayangkan

Bagikan :