Bagian 1

        Bismillah. Meskipun aku malu untuk mengatakan apa yang sedang kurasakan sekarang, namun mata sahabatku ini membuatku merasa nyaman untuk bercerita.

        “Begini, Ukh … anti kenal dengan Ukhti Khairunnisa, kan?” tanyaku sedikit malu.

        “Iya, ana kenal.” Jawab Nurul dengan wajah yang bersinar. Membuat aku bertambah malu, namun mata yang teduhnya bagaikan memiliki daya magnet untuk mengungkap kejujuran dari siapa saja yang menjadi lawan bicaranya.

        “Begini, Ukh, ana sudah lama memperhatikan dia.” Ujarku. Sungguh aku tidak tahu semerah apakah wajahku saat ini. Hanya Nurul dan orang lain yang melihatku saja yang tahu.

        “Antum menyukai dia?” tebak Nurul.

        “Hushh … jangan kencang­kencang ngomongnya. Ini kantin, malu kalau didengar oleh orang!” pintaku, sambil mencoba menetralkan perasaanku.

        “Tenang saja, Akh! Tidak apa­apa kok.” Jawab Nurul dengan santai sambil meminum teh botolnya dengan menggunakan sedotan.

Bagikan :